Hiburan

Merajut Kisah Tradisi Yang Tak Lekang Oleh Waktu Di Desa Sungai Bawang

Bagikan

Kutai Kartanegara, Solidaritas – Di tengah gempuran modernisasi yang kian gencar dan derasnya arus digitalisasi yang merambah hingga ke pelosok, sebuah oase tradisi nyatanya masih berdiri kokoh di tanah Kalimantan Timur.
Desa Budaya Sungai Bawang, yang terletak di Kabupaten Kutai Kartanegara, kini menjadi saksi bisu keteguhan masyarakat Dayak Kenyah dalam menjaga dan merawat warisan leluhur mereka agar tidak lumat ditelan zaman,  Kamis ,(27/08/2026)
Suasana magis langsung terasa begitu memasuki desa. Alunan musik tradisional bertempo sedang dengan ritme yang tegas menggema, mengiringi gerakan dinamis sekelompok pemuda dan pemudi yang sedang menarikan Tari Pambekal Tawai.
Tarian ini dipentaskan sebagai wujud penghormatan tertinggi sekaligus rasa gembira dalam menyambut tamu agung, wisatawan, maupun kelompok masyarakat yang berkunjung ke perkampungan mereka.
Melalui setiap gerakannya yang lembut dan ramah, Tari Pambekal Tawai menyelipkan pesan mendalam tentang perdamaian dan eratnya ikatan kekeluargaan antar-sesama manusia.
Tarian ini juga menjadi pembuka yang sakral dalam Upacara Mecaq Undat, sebuah ritual adat tahunan yang menjadi media ungkapan syukur masyarakat Dayak Kenyah atas hasil panen padi yang mereka peroleh.
Sebagai tuan rumah yang menjunjung tinggi adat memuliakan tamu, para pemuda Dayak Kenyah akan mengusung para tamu kehormatan di atas Alut Madang, perahu adat khas suku Dayak Kenyah.
Tradisi tandu perahu adat sejauh 300 meter menuju Lamin ini merupakan bentuk penghormatan tertinggi dan simbol kehangatan masyarakat setempat dalam menerima kunjungan para tamu. Foto : Bejo
Para tamu kemudian ditandu sejauh 300 meter dari gerbang masuk menuju Lamin Adat. Perjalanan ini terasa megah dengan kawalan para pemuda yang mengenakan pakaian perang khas adat Dayak Kenyah. Setibanya di halaman, puluhan warga sudah berdiri berbaris rapi, menyambut hangat dari gerbang hingga masuk ke dalam bangunan Lamin.
Di dalam Lamin, suara gong bertalu-talu memecah keheningan, seolah memanggil roh leluhur dan menyatukan hati setiap warga yang hadir.
Bagi masyarakat Dayak Kenyah, upacara adat seperti ini bukan sekadar tontonan visual atau komoditas pariwisata belaka. Ini adalah denyut nadi, identitas, dan bentuk penghormatan tertinggi mereka kepada alam serta Sang Pencipta.
Suasana semakin mistis saat Tari Hudoq Kiba digelar. Tarian magis yang menggunakan topeng kayu berwajah besar ini dipercaya mampu mengusir roh jahat dan hama yang merusak tanaman warga.
Sebelum Hudoq Kiba menghentakkan kaki ke tanah, penonton lebih dulu dibuai oleh Tari Datin Menoq, sebuah repertoar lemah lembut yang menyimbolkan keikhlasan hati serta rasa syukur atas hasil bumi.
Menjelang akhir acara, sekat antarmonusia seketika runtuh. Para penari dengan ramah menarik tangan para wisatawan yang datang dari berbagai daerah seperti Samarinda, Balikpapan, Bontang, hingga Kutai Kartanegara, untuk masuk ke dalam lingkaran besar.
Seluruh pengunjung larut dalam tarian persatuan yang memperlihatkan kebersamaan yang nyata. Musim kemarau mungkin saja membuat hasil panen tahun ini berkurang, namun kebersamaan di Desa Sungai Bawang membuktikan bahwa rasa syukur mereka tetap melimpah.
Kesuksesan perhelatan akbar Mecaq Undat ini tidak lepas dari dedikasi para penarinya yang lintas generasi—mulai dari pelajar, remaja, hingga orang tua. Di era digital saat ini, mempertahankan tradisi tentu bukan perkara mudah.
Namun, riak semangat itu tetap menyala pada diri Carolina Nampak, salah satu penari remaja asal Desa Budaya Sungai Bawang. “Alasan saya mau menari, karena tarian-tariannya juga bagus, karena tariannya juga lembut dan bagus,” ungkap Carolina polos.
Bagi Kepala Desa Sungai Bawang, Martinus, upacara ini adalah momentum krusial untuk mentransfer nilai-nilai leluhur kepada generasi penerus. Di tengah keterbatasan jumlah penduduk, para pemuda desa ditantang untuk multiguna demi menjaga nafas kesenian mereka.
“Anak-anak yang menari ini sampai dua tiga kali, yang seharusnya itu tari-tarian dilakukan oleh masing-masing orang. Karena kondisi jumlah penduduk kita tidak seberapa, pelaku pentas seni kita tidak seberapa, maka dipaksa bagaimana caranya supaya anak-anak ini bisa menari dua sampai tiga jenis tarian. Saya kira itu kegiatan yang mendasar tentang kegiatan seni tari yang menjadi kendala bagi kami,” papar Martinus secara terbuka.
Walau hasil panen terdampak kemarau, Martinus menegaskan bahwa edukasi budaya tidak boleh mandek agar generasi muda memahami makna mendalam dari setiap hentakan kaki dan kelembutan gerak jari mereka.
Kelestarian budaya ini juga memantik kekaguman sekaligus kepedulian dari para pengunjung. Achmad Krisna Hadiyanto, salah seorang pengunjung yang hadir, menegaskan pentingnya menjaga warisan ini agar jati diri bangsa tidak tercerabut.
“Ya, ini di Desa Sungai Bawang ini ada dua suku Dayak yakni Suku Dayak Kenyah dan Suku Dayak Bahau. Dan ini tarian Hudoq dari Dayak Bahau, saya mendukung untuk pelestarian suku budaya,” ujarnya penuh dukungan.
Yang paling mengagumkan dari Desa Sungai Bawang adalah api tradisi ini tidak dibiarkan padam begitu saja. Di selasar Lamin Adat, proses transfer ilmu bergerak secara alami dan intim.
Di sana, di antara aroma kayu tua dan gema suara gong, para orang tua dengan penuh kasih sayang terus menularkan keterampilan serta kisah-kisah leluhur kepada anak-cucu mereka. Sebuah bukti nyata bahwa meski zaman berubah, pakai gawai ataupun komputer, anak-anak di tanah ini wajib tahu dari mana mereka berasal. Red.

Bagikan

Related Posts