Samarinda, Solidaritas – Sengatan matahari di kawasan Jalan Usaha Tani, Betapus, Kelurahan Lempake, Samarinda Utara pada Senin sore (31/08/2026) terasa jauh lebih membakar dari biasanya.
Di sana, amukan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) akibat cuaca ekstrem El Nino kembali pecah. Namun di balik riuhnya sirene dan kepulan asap pekat, ada cerita tentang tubuh-tubuh yang lelah, napas yang sesak, dan darah yang menetes demi menyelamatkan lingkungan.

Bagi para petugas gabungan dari Kepolisian, BPBD, hingga pihak kelurahan, sore itu menjadi ujian fisik yang luar biasa. Vegetasi yang kering kerontang membuat api meloncat dengan cepat, menari-nari ditiup angin kencang. Ironisnya, di saat jago merah mengganas, pasokan air justru sangat minim.
Dengan peralatan seadanya yang tidak sebanding dengan luasnya medan, para petugas sempat memaksakan diri merangsek ke titik api. Namun, alam punya kendali lain. Kabut asap pekat yang menyengat paru-paru memaksa sejumlah personel mengambil keputusan pahit, mundur.
Bertahan di dalam kepungan asap tanpa alat pelindung pernapasan yang memadai sama saja dengan menyerahkan nyawa.
Saat sebagian petugas menepi untuk sekadar membasahi tenggorokan di bawah terik matahari, tampak sebuah pemandangan yang menyentuh hati.
Darman, seorang relawan BPBD Kota Samarinda, terlihat ambruk dan berbaring telentang di tengah hamparan ilalang yang sebagian telah menghitam akibat terbakar.
Warga Lempake ini menghela napas panjang dengan seragam yang dipenuhi abu. Baginya, sore ini adalah hari keempatnya bertaruh nyawa di jalur Betapus.
“Sudah beberapa hari ini Betapus terus dihajar api, Mas. Bahkan lebih. Medannya tinggi sekali, rumput-rumputnya tinggi,” ujar Darman lirih, menggambarkan betapa beratnya perjuangan fisik yang ia lalui.
Para relawan dan pemadam kebakaran memang harus baku hantam dengan medan yang sangat tidak ramah. Mereka wajib menembus rimbunnya rumput liar setinggi 1,5 meter yang siap menyembunyikan jebakan api atau bara yang tersembunyi di bawahnya.
Risiko tinggi ini bukan sekadar isapan jempol. Di lapangan, ancaman cedera mengintai setiap detik. Adi, seorang anggota relawan dari Info Taruna Samarinda (ITS), membagikan kisah pilu tentang rekannya yang menjadi korban keganasan medan Betapus.
Salah satu rekannya terpaksa harus dilarikan ke rumah sakit akibat kecelakaan kerja yang mengerikan di tengah kepulan asap.
“Si Dito kena, kena tunggul kayu (yang terbakar). Baru saja si Dito ini keluar dari rumah sakit,” ungkap Adi dengan nada getir.
Sementara ratusan relawan bertaruh nyawa memadamkan api, pihak berwajib mulai mencium adanya kejanggalan. Kapolsek Sungai Pinang, AKP Aksarudin Adam, menegaskan bahwa penanganan di kawasan Jalan Usaha Tani akan terus dipantau, termasuk memastikan api tidak kembali berkobar dari sisa-sisa bara bawah tanah.
Namun lebih dari itu, area yang terbakar diketahui merupakan lahan milik warga transmigrasi yang dikuasai oleh beberapa individu. Hal ini memicu kecurigaan bahwa ada unsur kesengajaan untuk membuka lahan dengan cara dibakar demi menekan biaya.
“Lokasi ini menurut keterangan dari warga adalah lahan trans yang dimiliki oleh beberapa orang. Tim kami akan menyelidiki lebih lanjut penyebab dari kebakaran ini, dan perkembangannya nanti akan kami sampaikan,” tegas AKP Aksarudin Adam.
Kini, saat malam mulai turun dan bara di Betapus perlahan meredup, para relawan hanya bisa berharap satu hal: kesadaran masyarakat. Petugas kembali mengimbau dengan sangat agar warga tidak membuang puntung rokok sembarangan atau membakar sampah secara liar. Jangan sampai kelalaian atau keserakahan segelintir orang, harus dibayar oleh darah dan peluh para relawan yang bertaruh nyawa di garda terdepan. Red









