DPRD Samarinda

Saat Listrik Samarinda Sering Mati dan Isu Korupsi Mulai Dikait-kaitkan

Bagikan

Samarinda, Solidaritas – Aktivitas warga Kota Samarinda belakangan ini mendadak punya ritme baru: bersiap menghadapi pemadaman listrik bergilir. Kipas angin yang mati di tengah cuaca gerah, kulkas yang mendadak sunyi, hingga gadget yang kehabisan daya sempat memicu rentetan tanya di benak publik.
“Ada apa sebenarnya dengan listrik kita?” Mungkin begitu keluh yang kerap terdengar di ruang-ruang tamu warga.
Berbagai spekulasi pun sempat liar berembunyi di tengah masyarakat. Salah satunya adalah kekhawatiran warga jika padamnya listrik ini berkaitan dengan kasus dugaan korupsi pengadaan batu bara PLTU periode 2018–2026 yang sedang disidik oleh Kortastipidkor Polri.
Isu miring tersebut sempat disebut-sebut menjadi biang kerok seretnya pasokan setrum di beberapa wilayah, termasuk Kalimantan Timur.
Namun, teka-teki itu akhirnya terjawab lewat sebuah pertemuan formal yang membawa angin segar. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Samarinda duduk bersama dengan PT PLN (Persero) UP3 Samarinda untuk meluruskan benang kusut informasi ini.
Ketua Komisi I DPRD Kota Samarinda, Samri Shaputra, memastikan bahwa pemadaman yang terjadi murni karena urusan teknis. PLN sedang melakukan pemeliharaan (maintenance) berkala dan perbaikan jaringan demi keandalan sistem kelistrikan jangka panjang.
Isu korupsi batu bara yang sempat berembus pun ditegaskan sama sekali tidak ada hubungannya dengan kondisi mati lampu saat ini.
“Mereka menjamin setelah sekitar 13 Juli mungkin tidak ada lagi pemadaman bergilir. Mudah-mudahan tidak meleset,” ujar Samri ramah, menirukan janji pihak PLN usai audiensi pada Rabu (8/7).
Samri tidak menampik jika minimnya informasi resmi dari PLN di awal waktu pemadaman menjadi pemicu suburnya isu-isu liar di media sosial. Sisi baiknya, kedatangan resmi manajemen PLN ke gedung dewan kali ini memberikan pegangan informasi yang valid langsung dari sumber utamanya.
Meskipun pihak PLN memilih irit bicara dan tidak memberikan penjelasan tambahan kepada media di lokasi audiensi, komitmen tanggal 13 Juli kini menjadi jangkar harapan bagi warga Kota Tepian.
Kini, warga Samarinda tinggal menghitung hari. Berharap komitmen tersebut benar-benar terealisasi, agar roda ekonomi usaha kecil kembali berputar lancar, tugas-tugas sekolah anak-anak tak lagi terhambat, dan malam-malam di Samarinda kembali terang benderang tanpa gangguan biar-pet. Adv

Bagikan

Related Posts