Samarinda, Solidaritas – Sebuah kenyataan pahit harus diterima oleh warga sekolah SMP Negeri 24 Samarinda. Di saat 15 SMP negeri lainnya di Kota Tepian bersiap bersolek lewat usulan APBD 2027, sekolah yang berlokasi di Jalan Pangeran Suryanata, Bukit Pinang, Samarinda Ulu ini justru harus kembali mengelus dada dan bersabar menanti giliran.
Gedung sekolah yang kerap menjadi langganan banjir saat hujan deras mengguyur ini dipastikan absen dari daftar skala prioritas pembangunan. Alasan klasiknya lagi-lagi tertumbuk pada dinding tebal bernama keterbatasan anggaran daerah.
Ketua Komisi IV DPRD Kota Samarinda, Mohammad Novan Syahronny Pasie, mengungkapkan bahwa kondisi keuangan atau fiskal daerah saat ini memaksa pemerintah untuk benar-benar memeras dan memilah anggaran secara ketat. Menyelamatkan SMPN 24 dari kepungan banjir ternyata membutuhkan biaya raksasa yang belum sanggup dipenuhi saat ini.
“Untuk SMPN 24 Samarinda belum dulu. Karena kalau mau direhabilitasi, harus dilakukan langsung semua. Saat ini kita terbatas anggaran karena kondisi fiskal yang ada, dan anggaran ini perlu benar-benar dipaskan saat ini,” aku Novan saat ditemui di gedung DPRD Samarinda, Senin (6/7/2026).
Pada usulan tahun anggaran 2027 nanti, total alokasi yang disiapkan untuk membenahi infrastruktur sekolah hanya berkisar di angka Rp50 miliaran. Angka yang terlihat besar tersebut nyatanya harus dibagi rata ke puluhan sekolah lain yang kondisinya tidak kalah mendesak.
Bahkan, porsi kue anggaran terbesar justru tersedot untuk membenahi sarana dan prasarana di tingkat Sekolah Dasar (SD), yang mencakup perbaikan ringan di 35 sekolah se-Samarinda. Sisanya, barulah dialokasikan untuk menyentuh 15 bangunan SMP negeri.
Novan menjelaskan bahwa dengan dana yang terbatas tersebut, proyek rehabilitasi tahun depan memang sengaja difokuskan pada kerusakan yang sifatnya ringan saja, bukan perombakan total secara struktural.
“Kalau rehabilitasi 15 SMP untuk usulan di 2027 itu rata-rata renovasi ringan, seperti perbaikan plafon dan ruang belajar yang perlu diperbaiki,” jelasnya.
Selain fokus pada perbaikan ringan seperti mengganti plafon yang lapuk atau mengecat ruang kelas, anggaran mini ini juga diprioritaskan untuk sekolah dengan kategori kerusakan berat akibat dampak bencana, namun dengan catatan biaya penanganannya masih bisa dijangkau oleh kas daerah.
Beberapa sekolah yang beruntung masuk dalam daftar penyelamatan ini di antaranya adalah SMPN 2 Samarinda di Jalan KH Ahmad Dahlan dan SMPN 5 Samarinda di Jalan Ir H Juanda.
Sementara itu, bagi para siswa dan guru di SMPN 24 Samarinda, bayang-bayang air yang menggenangi ruang kelas seperti kejadian banjir besar pada Mei 2025 lalu tampaknya masih akan menjadi karib mereka saat musim penghujan tiba.
Mereka harus merajut sabar lebih panjang, menunggu hingga ruang fiskal daerah cukup longgar untuk membangun benteng pertahanan yang layak bagi sekolah mereka. Adv









