Kriminal

Cinta, Amarah, dan Sepucuk Korek Api menjadi Drama Asmara di Samarinda

Bagikan

Samarinda, Solidaritas – Ada-ada saja kisah percintaan zaman sekarang. Istilah “cinta itu buta” tampaknya mulai bergeser makna di kalangan sebagian pemuda Kota Tepian. Bukan lagi buta karena pengorbanan yang manis, melainkan buta hingga nekat menghilangkan akal sehat.
Belum kering ingatan warga Samarinda tentang kasus tragis seorang pria yang nekat menembak mantan kekasihnya menggunakan senapan angin, kini drama asmara baru kembali tersaji.
Kali ini polanya mirip: berbekal rasa tidak terima karena hubungan kandas, seorang pria datang membawa “senjata” demi sebuah pembuktian ego.
Minggu (28/6/2026) dini hari, sekitar pukul 04.37 WITA, suasana di sebuah rumah kos di Jalan Suwandi, Kelurahan Gunung Kelua, Kecamatan Samarinda Ulu, mendadak berubah mencekam. Saat sebagian besar penghuni kos masih terlelap dalam dinginnya udara subuh, kegaduhan hebat memecah keheningan.
Seorang pria berinisial RM datang bertamu dengan cara yang jauh dari kata sopan. Langkah kakinya penuh amarah, matanya liar mencari keberadaan sang mantan kekasih. Namun, yang membuat bulu kuduk para penghuni kos meremang adalah benda hitam yang digenggamnya.
Di bawah temaram lampu teras kos, RM terlihat memainkan dan memutar-mutar benda yang sangat menyerupai senjata api jenis revolver. Bagi warga awam, visual itu adalah teror nyata.
Siapa yang tidak panik melihat moncong besi hitam pekat diacungkan di depan mata pada sepertiga malam?
Niat hati ingin meluapkan emosi kepada mantan pacar, RM justru harus menelan kekecewaan. Bak coretan takdir yang tak searah, perempuan yang dicarinya ternyata sudah angkat kaki dari rumah kos tersebut sejak malam sebelumnya.
Nasi sudah menjadi bubur, amarah yang telanjur membubung tinggi membuat RM kehilangan kendali. Karena target utamanya tidak ada di tempat, teman satu kos korban yang tidak tahu apa-apa justru menjadi pelampiasan. Ancaman demi ancaman keluar dari mulut RM bersamaan dengan gestur menodongkan pistol mainannya tersebut.
“Pelaku datang mencari mantan pacarnya di kos. Ternyata sudah pergi sejak malam sebelumnya. Karena tidak bertemu, pelaku kemudian mengancam teman yang tinggal satu kos dengan korban,” ujar Pamapta III Polresta Samarinda, Aiptu Joko Wahyudi, saat dikonfirmasi Senin (29/6/2026).
Mendapat ancaman bersenjata, penghuni kos langsung menghubungi pihak kepolisian. Anggota Polresta Samarinda segera meluncur ke lokasi kejadian. Sayangnya, RM yang tampaknya sadar aksinya mulai memancing perhatian warga sekitar, langsung mengambil langkah seribu sebelum petugas tiba.
Polisi yang tiba di lokasi segera melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) serta menggali keterangan dari para saksi dan korban yang masih gemetar ketakutan. Di sinilah fakta menggelitik namun ironis terungkap.
Benda mengerikan yang diputar-putar RM seperti koboi di film laga itu bukanlah senjata api organik milik aparat, bukan pula senjata rakitan. Benda itu hanyalah sebuah korek api gas berbentuk pistol revolver. Sebuah alat pemantik rokok yang didesain sedemikian rupa hingga mampu memanipulasi mata orang yang melihatnya dalam kondisi panik.
“Menurut saksi, pelaku membawa benda yang menyerupai revolver sambil dimainkan atau diputar-putar ketika mencari mantan pacarnya,” tambah Aiptu Joko Wahyudi.
Meski “senjata” yang dibawa RM hanyalah korek api, polisi menegaskan proses hukum tidak akan berhenti begitu saja. Tindakan RM yang mendatangi properti orang lain tanpa izin pada dini hari, melakukan pengancaman, dan menimbulkan kepanikan massal dengan replika senjata api tetap merupakan pelanggaran hukum serius. Saat ini, polisi terus memburu keberadaan RM yang buron.
Kasus RM dan insiden senapan angin sebelumnya menjadi alarm keras bagi pola hubungan asmara generasi muda hari ini. Hubungan yang toxic (beracun) dan ketidakmampuan mengelola emosi pasca-putus cinta sering kali mendorong seseorang melakukan aksi teatrikal yang berbahaya.
Mengancam teman kos dengan pistol korek api mungkin terdengar seperti lelucon konyol setelah faktanya terungkap. Namun, bagi para korban yang malam itu menatap moncong revolver tiruan tersebut, trauma yang ditinggalkan adalah nyata. Panggung drama asmara RM kini telah ditutup oleh larian kakinya sendiri, dan babak berikutnya akan segera dimulai di ruang interogasi kepolisian. Red

Bagikan

Related Posts