Samarinda, Solidaritas – Riuh rendah kawasan Jalan Gajah Mada, Kecamatan Samarinda Ulu, mendadak mencekam pada Rabu (1/4/2026) malam lalu. Di lokasi yang tak jauh dari pusat pemerintahan Kantor Gubernur Kalimantan Timur tersebut, sebuah perselisihan berdarah pecah, menyisakan luka mendalam dan trauma bagi warga yang melintas.
Hanya berselang sehari setelah insiden memprihatinkan itu, tabir gelap kasus penikaman dua juru parkir akhirnya terungkap. Tim gabungan Jatanras Polresta Samarinda bersama Unit Reskrim Polsek jajaran dan Polda Kaltim berhasil meringkus dua pria yang diduga kuat sebagai pelaku utama, Kamis (2/4/2026) malam.
Kapolresta Samarinda, Kombes Pol Hendri Umar, mengonfirmasi bahwa dua orang berinisial K dan S—yang lebih dikenal dengan sapaan “Badak”—kini telah mendekam di balik jeruji besi. Pelarian mereka terhenti setelah polisi melakukan pengejaran intensif di dua lokasi berbeda, yakni di Loa Bakung dan kawasan poros Samarinda–Bontang.
“Alhamdulillah, tadi malam kedua pelaku sudah bisa diamankan. Berdasarkan bukti rekaman CCTV dan pakaian yang dikenakan saat kejadian, keduanya teridentifikasi jelas melakukan penikaman,” ujar Hendri, Jumat (3/4/2026).
Tragedi ini dipicu oleh persoalan klasik di jalanan: berebut lahan parkir. Namun, ada bumbu dendam di baliknya. Pelaku merasa sering “dikerjai” oleh korban karena barang-barang milik mereka kerap hilang secara misterius di lokasi parkir. Cekcok mulut yang semula hanya adu argumen pun berubah menjadi serangan senjata tajam yang membabi buta.
Akibat kejadian tersebut, dua korban harus berjuang melawan masa kritis dan menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Dirgahayu. Di sisi lain, polisi telah menyita sejumlah barang bukti mengerikan, termasuk dua bilah parang serta satu sangkur yang digunakan untuk melukai korban.
“Motifnya adalah emosi karena persoalan lahan. Namun, tindakan penganiayaan berat seperti ini tidak bisa ditoleransi. Pelaku akan dijerat dengan Pasal 262 KUHP,” tegas Hendri.
Kini, Jalan Gajah Mada kembali tenang, namun bayang-bayang peristiwa malam itu menjadi pengingat betapa tipisnya batas kesabaran di tengah kerasnya persaingan hidup di jalanan Kota Tepian. Red









