Kriminal

Musuh dalam Selimut: Pria di Samarinda Tega Gadaikan Kendaraan Sahabat Sendiri

Bagikan

Samarinda, Solidaritas – Kepercayaan adalah segalanya dalam sebuah pertemanan, namun bagi seorang pria berinisial SA (34), kepercayaan justru menjadi celah untuk melancarkan aksi penipuan. Peribahasa “pagar makan tanaman” kiranya tepat menggambarkan nasib malang yang menimpa seorang warga Samarinda yang harus kehilangan mobilnya di tangan teman sendiri.
Aksi penggelapan ini menjadi pengingat keras bagi kita semua: kejahatan tidak selalu datang dari orang asing, terkadang ia muncul dari sosok yang paling sering kita sapa.

Drama ini bermula pada Jumat (24/2) pagi di sebuah indekos kawasan Jalan Pangeran Antasari. Saat itu, korban tengah bersiap menempuh perjalanan jauh menuju Kutai Barat. Di tengah kesibukan itu, SA datang membawa “tawaran menggiurkan”.
Dengan dalih ingin memberikan kenyamanan lebih bagi sahabatnya, SA menawarkan untuk menukar mobil Daihatsu Ayla milik korban dengan Toyota Innova Reborn miliknya. Tanpa secuil pun rasa curiga karena merasa sudah saling mengenal, korban menyerahkan kunci beserta STNK mobilnya.
Namun, kenyamanan yang dijanjikan hanyalah “umpan”. Memasuki bulan Maret, permainan licin SA mulai terendus. Ia sempat menukar kembali mobil tersebut dengan unit Honda Brio, yang belakangan diketahui hanyalah mobil sewaan (rental).

Kecurigaan korban memuncak saat mobil aslinya tak kunjung kembali dengan berbagai alasan klasik, mulai dari “dipakai sepupu” hingga sulit dihubungi. Setelah ditelusuri secara mandiri, fakta pahit terungkap: SA ternyata terlilit utang di mana-mana.
Mobil Ayla milik korban rupanya telah digadaikan SA kepada pihak ketiga demi menutupi beban finansialnya. Janji-janji manis untuk menebus kendaraan tersebut hanya menjadi isapan jempol belaka hingga akhirnya korban memilih jalur hukum.

Kasat Reskrim Polresta Samarinda, AKP Agus Setyawan, mengonfirmasi bahwa pelaku kini telah diamankan dan ditetapkan sebagai tersangka.
“Modusnya sangat terencana. Pelaku memanfaatkan kedekatan emosional untuk membuat korban percaya. Ia meminjamkan mobil rental seolah-olah miliknya, sementara mobil korban justru digadaikan,” jelas AKP Agus, Rabu (1/4).
Kini, SA harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di balik jeruji besi Satreskrim Polresta Samarinda. Kasus ini menjadi pelajaran berharga bagi warga Samarinda: dalam urusan aset dan dokumen berharga, logika harus tetap lebih tinggi daripada rasa sungkan, meskipun terhadap teman baik sekalipun.
Sebab, di balik senyum seorang kawan, terkadang tersimpan niat yang bisa merugikan masa depan. Red

Bagikan

Related Posts