Samarinda, Solidaritas – Dampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Pulau Kalimantan kini kian meluas. Tidak hanya mengancam kesehatan masyarakat, pekatnya polusi udara belakangan ini juga mulai memukul dan melumpuhkan sektor pariwisata di Kalimantan Timur.
Akibat kondisi ini, sejumlah destinasi wisata unggulan kini sepi peminat hingga memicu penurunan omzet pendapatan yang sangat drastis bagi para pengelolanya. Situasi pelik tersebut memaksa para pelaku wisata memutar otak untuk bertahan, sembari berharap adanya solusi nyata dari pemerintah setempat.
Salah satu titik yang merasakan dampak paling nyata adalah kawasan wisata Pulau Pangempang, Kecamatan Muara Badak, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.
Sebelum kabut asap mengepung, kawasan Pangempang merupakan salah satu destinasi wisata alam unggulan di Kutai Kartanegara. Pada akhir pekan normal, pantai berbalut hutan pinus yang menyajikan spot estetis khas pesisir ini biasanya mampu menyedot animo 1.000 hingga 2.500 pengunjung tiap minggunya.
Namun kini, kondisinya berubah drastis. Udara yang tidak sehat membuat masyarakat enggan beraktivitas di luar ruangan. Area wisata yang biasanya ramai riuh oleh pelancong, kini tampak lengang dan sepi.
Kondisi ini sempat mengejutkan beberapa wisatawan yang tetap nekat datang. Lukman, salah seorang pengunjung, mengaku agak heran melihat suasana pantai yang begitu sepi. Padahal menurutnya, kawasan pesisir seperti Pantai Pantrita Palupi yang dipenuhi pohon pinus seharusnya menjadi pelarian dari polusi kota.
“Ya karena di pantai kan cenderung lebih kurang asapnya. Jalan-jalan ke sini meskipun perjalanannya terganggu juga dengan asap. Ya lumayan sepi lah, tapi setidaknya dapat hawa yang lebih segar timbang di kota,” ujar Lukman.
Keluhan senada diungkapkan oleh Ahmad, atau yang akrab disapa Daeng Lompo, pengelola Pantai Pantrita Palupi di Muara Badak. Menurutnya, tren penurunan jumlah kunjungan wisatawan ini sebenarnya sudah mulai dirasakan sejak beberapa bulan terakhir seiring memburuknya kualitas udara.
“Kabut asap ini luar biasa sekali dampaknya karena banyak orang yang tidak mau keluar rumah karena asap ada di mana-mana. Dan ini mestinya penyakit yang luar biasa yang perlu sama-sama kita hindari,” kata Ahmad.
Meski demikian, Ahmad tetap mengingatkan masyarakat untuk menjaga kesehatan dan menyarankan wilayah pesisir sebagai opsi mencari udara bersih jika terpaksa keluar rumah.
“Saya imbau kepada seluruh masyarakat Kalimantan Timur agar di mana pun berada, kalau berada di daerah permukaan dan di mana, pakai masker. Karena di pantai ini airnya dari laut, jadi agak bersih. Oksigen yang terbaik saat ini adalah datang ke pinggir pantai, bukan di Pantrita Palupi saja yah. Datang ke pinggir pantai akan merasakan oksigen yang berbeda,” tambahnya.

Merespons kondisi pariwisata yang lesu akibat cuaca ekstrem ini, Kepala Dinas Pariwisata Kalimantan Timur, Faisal, menyatakan bahwa pihaknya sejauh ini belum mengeluarkan travel warning maupun surat edaran resmi untuk menutup destinasi wisata.
Faisal menjelaskan bahwa pergerakan kabut asap ini sangat bergantung pada faktor alam, khususnya arah angin yang berembus.
“Ini angin yah, karena beberapa hari lalu cerah-cerah aja jadi tentatif. Ya tergantung angin yang membawa. Untuk minggu ini tidak ya (travel warning), tapi nanti suatu saat ada,” jelas Faisal.
Kendati belum ada penutupan tempat wisata, Kadispar Kaltim mengimbau para pemilik dan pengelola destinasi untuk tetap memprioritaskan keamanan dan kenyamanan agar para wisatawan merasa aman saat menghabiskan waktu libur mereka.
“Kalau parah, ya saran saya tetap menggunakan masker. Dan belum ada lagi kita buat pengumuman atau edaran untuk menutup destinasi, karena bagaimanapun juga ini (hiburan/liburan) juga salah satu kebutuhan masyarakat Indonesia,” tutupnya.
Kini, para pelaku usaha di sektor pariwisata daerah hanya bisa menggantungkan harapan pada ketegasan pemerintah. Mereka mendesak adanya tindakan cepat dan taktis untuk memadamkan titik-titik api penyebab karhutla, agar kualitas udara kembali normal dan roda ekonomi pariwisata di Kalimantan Timur bisa kembali berputar. Red









