Samarinda, Solidaritas – Industri kreatif tanah air kembali menorehkan prestasi membanggakan di kancah internasional. Bertepatan dengan awal Oktober tahun ini, industri desain fashion Bumi Etam resmi melompat ke panggung dunia lewat gelaran perdana Borneo International Fashion Festival (BIFF) 2026.
Melalui festival ini, kekayaan wastra (kain tradisional) khas Kalimantan Timur mulai membidik pasar global secara serius. Keindahan busana yang berlenggak-lenggok di atas runway Aula Odah Etam,
Kompleks Kantor Gubernur Kaltim pada Sabtu (3/10/2026) malam, sukses memukau penonton. Siapa sangka, balutan pakaian memikat yang dikenakan oleh para model nasional hingga internasional tersebut merupakan buah desain dari putra-putri daerah Kaltim sendiri.
Tidak tanggung-tanggung, sedikitnya ada 224 koleksi busana dari 28 desainer lokal, nasional, hingga internasional yang dipamerkan dalam ajang ini. Meski baru pertama kali diadakan, BIFF 2026 sukses menjadi pusat perhatian dunia mode berkat kolaborasi strategis antara Pandawi Wastra Borneo asal Melbourne, IMTB, Javabor, dan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Kaltim.
Kehadiran Pandawi Wastra Borneo dari Australia tidak hanya membawa kemeriahan, tetapi juga membuka peluang investasi dan ekosistem baru bagi talenta muda di Kalimantan Timur.
Yulia Hadi, Chairwoman BIFF sekaligus desainer lokal yang kini berkiprah di Australia, mengaku sangat kagum dengan potensi luar biasa yang dimiliki oleh para desainer muda daerah, termasuk para pelajar.

“Hasil karya anak-anak SMK dari Balikpapan dan Samarinda sungguh luar biasa. Saya sangat kagum melihat hasil karyanya. Ini patut diapresiasi dan terus didukung,” ujar Yulia penuh kebanggaan.
Senada dengan hal tersebut, Ketua Harian Dekranasda Kaltim, Heni Purwaningsih, menegaskan bahwa BIFF 2026 dirancang sebagai upaya sistematis untuk memperkenalkan kekayaan wastra dan kerajinan Kaltim ke panggung yang lebih luas. Lebih dari itu, acara ini menjadi ruang temu nyata bagi para pelaku usaha.
“Kegiatan ini mempertemukan antara buyer (pembeli) dengan pelaku UKM kita. Hilirnya adalah fashion show yang kita ikuti hari ini dan besok. Jadi, ini salah satu rangkaian kegiatan yang bertujuan membangun ekosistem wastra agar semua bergerak, semua pelaku mendapat manfaat, dan pada akhirnya pertumbuhan ekonomi Kalimantan Timur bisa meningkat,” jelas Heni.
Sementara itu, desainer kenamaan Anas Maghfur menekankan bahwa BIFF 2026 bukanlah peragaan busana biasa, melainkan sebuah jembatan perdagangan global. Melalui agenda business matching, pengrajin dan desainer lokal dipertemukan langsung dengan jaringan pembeli dari Melbourne.
“Wastra itu menjadi salah satu kekuatan fashion daerah. Kehadiran Miss Yulia menjadi warna baru di mana produk teman-teman, termasuk produk saya sendiri, bisa dibawa sampai ke Melbourne. Harapannya, kita jangan hanya kaya seremonial saja, ke depan kita benar-benar berbisnis sampai ke Melbourne agar produk kreatif kita naik kelas,” harap Anas.
Daya tarik BIFF 2026 semakin kuat karena tidak hanya menghadirkan desainer mancanegara dari Australia, Filipina, hingga Kenya, tetapi juga membawa misi modernisasi.
Festival ini berfokus pada program digitalisasi desain fashion bagi para lulusan muda tata busana di Kaltim. Tujuannya agar karya-karya mereka mampu bersaing secara modern, adaptif, dan cepat di pasar internasional.
Mengangkat ikon Kupu-Kupu Raja, spesies endemik Kalimantan yang melambangkan keindahan dan pelestarian alam, BIFF 2026 menancapkan filosofi yang mendalam. Event ini diyakini akan menjadi agenda tahunan yang kokoh untuk mengawal pertumbuhan ekonomi kreatif berbasis budaya secara berkelanjutan di Kalimantan Timur. Red









