Samarinda, Solidaritas – Beberapa hari terakhir, langit di atas Kota Samarinda tak lagi secerah biasanya. Selimut kabut asap yang tebal perlahan mengubah lanskap kota, membatasi jarak pandang, dan yang paling mengkhawatirkan, mengancam kesehatan generasi muda yang sedang menuntut ilmu.
Kondisi udara yang kian menyesakkan dada ini memantik perhatian serius dari Ketua Fraksi PKS DPRD Kota Samarinda, Arif Kurniawan. Beliau mendorong Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda untuk segera menyiapkan langkah darurat guna melindungi para peserta didik jika kualitas udara terus merosot ke level yang berbahaya.
Bukan sekadar kekhawatiran tanpa dasar, data dari Stasiun Meteorologi Kelas II APT Pranoto Samarinda pada Rabu (16/9/2026) mencatat konsentrasi PM2.5 menyentuh angka 210,4 µg/m³ pada sore hari sebuah angka yang menempatkan udara Samarinda dalam kategori sangat tidak sehat.
“Ini lembaga resmi yang mengeluarkan , sudah seharusnya kita memperhatikan demi kenyamanan dan keselamatan anak anak pelajar kita di sekolah,” kata Arif.
Selain itu kondisi di lapangan bahkan sempat terekam lebih pekat. Sebuah pengukuran mandiri menggunakan perangkat pemantau partikulat di hari yang sama mencatat lonjakan dramatis, di mana PM2.5 menembus 342 µg/m³ dan PM10 mencapai 1.171 µg/m³.
Meski data ini bersifat lokal di titik tertentu, angka tersebut menjadi alarm keras bahwa ada wilayah di Samarinda yang udaranya sudah sangat beracun.
Kondisi ini belum membaik keesokan harinya. Berdasarkan pantauan Labkes Kaltim pada Kamis (17/9/2026) pagi, Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) Samarinda melonjak ke angka 357—masuk dalam kategori “Sangat Buruk”.
Polusi ini diketahui kerap menebal sejak dini hari hingga waktu keberangkatan anak-anak ke sekolah.
Dampaknya bahkan sudah melumpuhkan aktivitas udara. Pada 16 September, jarak pandang di Bandara APT Pranoto merosot hingga tersisa 1.000 meter.
Akibatnya, penerbangan maskapai Batik Air dari Jakarta terpaksa dialihkan mendarat ke Balikpapan demi keselamatan.
“Melihat Fenomena itu diharapkan PEmkot bisa mengambil langkah langkah strategis untuk melindungi warga kota Samarinda khususnya para pelajar jika kualitas udara semakin menurun,” tegas Arif. Adv









