Olah Raga

Air Mata, Ketegangan, dan Malam Bersejarah Bajol Ijo di Gianyar

Bagikan

Bali, Solidaritas – Stadion Kapten I Wayan Dipta Gianyar Bali menjadi saksi bisu drama 120 menit yang menguras emosi, sebelum akhirnya gemuruh takbiran kemenangan Bonek pecah di langit Bali, Kamis (6/8) malam.
Persebaya Surabaya sukses mengukir sejarah baru dengan merengkuh trofi Piala Presiden 2026 untuk pertama kalinya, setelah menumbangkan rival klasik mereka, Persib Bandung, lewat adu penalti yang mendebarkan dengan skor 6-5.
Pertandingan ini bukan sekadar perebutan piala pramusim. Ini adalah pembuktian mental, taktik cerdik, dan kerja keras yang dibayar tuntas di atas lapangan hijau.
Sejak peluit babak kedua dibunyikan setelah bermain imbang 1-1 di babak pertama, pelatih Bernardo Tavares membuat keputusan mengejutkan. Ia memasukkan Reza Arya di bawah mistar gawang menggantikan Ernando Ari. Sebuah perjudian yang awalnya mengundang tanya, namun kelak berbuah manis.
Persib langsung menekan selepas jeda. Pangeran Biru mengurung pertahanan Persebaya dari berbagai lini. Beruntung, Bajol Ijo memiliki Riyan Ardiansyah. Pada menit ke-50, dengan ketenangan luar biasa, ia melakukan aksi penyelamatan krusial yang mematahkan serangan mematikan Persib sebelum sempat menjadi ancaman nyata.
Persebaya tidak tinggal diam. Gelombang penyegaran ditiupkan Tavares pada menit ke-64 dengan memasukkan darah muda seperti Toni Firmansyah, Ricky Pratama, dan Yann Mabella. Laga sempat berjalan sangat terbuka, saling jual beli serangan, namun disiplinnya lini belakang kedua tim membuat skor 1-1 tidak bergeming hingga waktu normal usai.
Memasuki babak extra time, tensi pertandingan justru semakin memuncak. Nafas-nafas yang mulai habis dipaksa bertahan demi sebuah lambang di dada. Miguel Pereira hampir membuat pendukung Persebaya bersorak di menit awal babak tambahan, sayangnya sundulannya melenceng tipis.
Titik balik terjadi pada menit ke-111. Stadion bergemuruh saat pemain Persib diganjar kartu merah akibat pelanggaran keras terhadap Francisco Rivera. Rivera yang mengerang kesakitan akhirnya harus ditarik keluar dan digantikan oleh Diogo Ramalho.
Unggul jumlah pemain, Persebaya mengurung Persib di sisa waktu, namun Maung Bandung yang terdesak memilih bertahan total demi memaksakan laga ke babak tos-tosan.
Saat peluit akhir babak tambahan berbunyi, ketegangan di stadion berada di titik tertinggi. Adu penalti selalu menjadi lotere yang kejam bagi siapa saja.
Di sinilah sinarnya Reza Arya menyala paling terang. Kiper berusia 26 tahun tersebut tampil bak pahlawan dalam komik. Dengan refleks dewa, ia berhasil menepis dua tendangan algojo Persib Bandung.
Meskipun publik Persebaya sempat dibuat jantungan saat eksekusi Yuran Fernandes gagal, para penendang Bajol Ijo lainnya tetap tenang dan menyelesaikan tugasnya dengan sempurna.
Skor 6-5 di babak adu penalti mengunci kemenangan dramatis ini. Sorak-sorai, pelukan haru, dan air mata bahagia tumpah di lapangan. Gelar perdana Piala Presiden ini bukan sekadar trofi pelengkap lemari piala di Surabaya, melainkan sebuah modal spiritual dan pondasi kokoh bagi Bajol Ijo yang siap mengaum lebih keras menyambut kompetisi resmi musim 2026/2027.Red

Bagikan

Related Posts