News

Ratusan ‘Green Warrior’ Menyemut di Masjid IKN

Bagikan

IKN, Solidaritas –  Udara pagi di Kecamatan Sepaku masih menyisakan sisa embun ketika ratusan orang mulai menyemut di sekitar kawasan pembangunan Masjid Negara Ibu Kota Nusantara (IKN). Mereka tidak datang dengan seragam kerja kantoran, melainkan dengan sarung tangan, kantong sampah besar, dan satu semangat yang sama,  membebaskan calon pusat peradaban baru ini dari sampah.
Sedikitnya 300 pejuang lingkungan yang dijuluki green warrior berkumpul untuk melakukan aksi nyata. Bukan sekadar seremonial, kerja bakti lingkungan atau yang akrab disebut korve ini digelar dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Hasilnya tidak main-main, sebanyak 330 kilogram sampah berhasil disisir dan dikumpulkan dari kawasan religi tersebut.
“Korve dilaksanakan di kawasan Masjid Negara IKN dan berhasil mengumpulkan sampah 330 kilogram,” ujar Kepala Otorita IKN, Basuki Hadimuljono, Kepada media.
Basuki menegaskan bahwa tumpukan sampah yang berhasil dikumpulkan bukan sekadar angka statistik, namun bukti nyata bahwa kepedulian untuk menjadikan kawasan ini menjadi bersih bukan hanya kegiatan seremonial.
“Sampah yang terkumpul itu gambaran selalu menjaga lingkungan dan kawasan IKN,” tambahnya dengan penuh penekanan . 
Selain itu langkah Gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, dan Indah) di seluruh pelosok negeri merupakan instrulksi dari Presiden Prabowo Subianto sehingga langkah nyata para green warrior untuk melakukan aksi bersih bersih di jantung ibu kota baru ini sudah sejalan dengan program pemerintah.
Dengan semangat itu pula Otorita IKN pun menempatkan diri sebagai garda depan dalam mendukung penuh visi besar tersebut melalui aksi ganda,  menanam pohon secara konsisten dan menjaga kebersihan lingkungan.
Menjaga bumi bukan lagi sekadar kewajiban di atas kertas, melainkan sebuah gaya hidup (lifestyle) baru yang terus disuntikkan ke dalam nadi kehidupan sehari-hari.
Di lapangan, sampah-sampah yang telanjur berserakan tidak langsung dibuang begitu saja ke tempat pembuangan akhir. Dengan telaten, para relawan memilahnya berdasarkan jenis: mulai dari sampah organik, anorganik yang bisa didaur ulang, hingga sampah bahan berbahaya dan beracun (B3) . Modernitas kota masa depan coba dikawinkan dengan kearifan ekologis sejak dini.
Bergerak Bersama demi Iklim
Menengok lebih dalam ke barisan para pejuang lingkungan hari itu, kita akan mendapati sebuah mosaik kolaborasi yang indah. Mereka yang bersimbah keringat memunguti sampah datang dari berbagai latar belakang.
Mulai dari aparatur pemerintah desa dan daerah setempat, pegawai perbankan, tenaga medis rumah sakit, pekerja perhotelan, perwakilan sejumlah perusahaan swasta, hingga aparat keamanan yang sehari-hari menjaga kawasan IKN.  Semua melebur tanpa sekat, bekerja demi satu tujuan: merawat iklim.
Bagi warga lokal, aksi ini menumbuhkan harapan baru. Ratna Juwita, salah satu green warrior asal Desa Pemaluan, Kecamatan Sepaku, memandang area Masjid Negara IKN hari itu telah berubah menjadi ruang refleksi bersama.
“Ini menjadi ruang aksi bersama dalam menumbuhkan kembali kesadaran bahwa lingkungan yang bersih dimulai dari kebiasaan sederhana,” tuturnya penuh harap [1].
Senada dengan Ratna, Raehan Amsyah, seorang pejuang lingkungan dari RS Hermina Nusantara, memandang gerakan korve ini sebagai pembuktian sosial. Baginya, merawat masa depan hijau di IKN tidak bisa mengandalkan satu atau dua pundak saja.
“Ini salah satu bukti untuk melihat kepedulian terhadap lingkungan di kawasan IKN tidak bisa berjalan sendirian, artinya membutuhkan keterlimbatan dari banyak pihak,” pungkas Raehan [1].
Dari tanah Sepaku, ratusan pasang tangan telah mencontohkan bahwa kota masa depan yang megah tidak hanya dibangun dari beton dan baja, tetapi juga dari keranjang-keranjang sampah yang dipilah dengan penuh cinta.

Bagikan

Related Posts