DPRD Samarinda

Sampah Samarinda Kian Mendesak, DPRD Dorong PLTSa dan Perubahan Sistem Pengelolaan

Bagikan

Samarinda,Solidaritas– Persoalan sampah di Kota Samarinda dinilai telah memasuki fase yang membutuhkan perubahan kebijakan secara mendasar. Seiring pertumbuhan penduduk dan meningkatnya aktivitas ekonomi perkotaan, sistem pengelolaan sampah yang masih bertumpu pada pola pembuangan konvensional dianggap tidak lagi mampu menjawab tantangan jangka panjang.

Wakil Ketua DPRD Kota Samarinda, Celni Pita Sari, menegaskan bahwa pemerintah daerah perlu segera mengarahkan pengelolaan sampah menuju sistem yang lebih modern, efisien, dan berkelanjutan.

Salah satu langkah strategis yang dinilai perlu dipercepat adalah realisasi Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) sebagai bagian dari transformasi pengelolaan limbah perkotaan.

Menurut Celni, hasil evaluasi terhadap berbagai program pengelolaan sampah menunjukkan tekanan terhadap fasilitas Tempat Pembuangan Akhir (TPA) terus meningkat dari tahun ke tahun. Kondisi tersebut, kata dia, tidak dapat diselesaikan hanya dengan memperluas area penampungan sampah.

“Ini bukan proyek yang hanya dilihat dari sisi pembangunan fisiknya. Yang lebih penting adalah memastikan sistemnya bisa berjalan dalam jangka panjang dan tidak menjadi beban baru bagi keuangan daerah,” ujarnya, Jumat (29/5/2026).

Ia menilai pola pengelolaan yang selama ini masih berfokus pada pengangkutan dan penimbunan sampah perlu segera ditinggalkan. Kota dengan perkembangan pesat seperti Samarinda membutuhkan sistem yang mampu mengurangi beban TPA sekaligus memberikan manfaat tambahan bagi masyarakat.

“Kalau pola yang digunakan masih sebatas mengangkut lalu menimbun, persoalan ini akan terus berulang. Kota sebesar Samarinda membutuhkan sistem pengolahan yang mampu mengurangi beban TPA, sekaligus memberikan manfaat tambahan bagi masyarakat,” tegasnya.

Selain aspek infrastruktur, Celni menyoroti rendahnya kesadaran masyarakat dalam memilah sampah dari sumbernya. Menurutnya, kebiasaan mencampur sampah organik dan anorganik masih menjadi kendala utama yang menyebabkan proses pengolahan tidak berjalan optimal.

Ia menekankan bahwa edukasi mengenai pemilahan sampah harus terus diperkuat agar volume sampah yang masuk ke fasilitas pengolahan dapat ditekan. Kesadaran masyarakat, lanjutnya, merupakan fondasi utama dalam menciptakan sistem pengelolaan sampah yang efektif.

“Pengelolaan sampah tidak akan berhasil jika hanya mengandalkan pemerintah. Kesadaran masyarakat untuk memilah dan mengurangi sampah harus tumbuh menjadi budaya bersama. Di situlah sebenarnya titik awal penyelesaian masalah ini,” katanya.

Lebih lanjut, ia menilai konsep pengolahan sampah menjadi energi melalui teknologi PLTSa layak dikembangkan di Samarinda. Selain membantu mengurangi timbunan sampah, teknologi tersebut juga berpotensi mendukung kebutuhan energi sekaligus meningkatkan efisiensi pengelolaan lingkungan perkotaan.

Di sisi lain, ia juga melihat tantangan operasional yang masih dihadapi sektor kebersihan, khususnya terkait ketersediaan sumber daya manusia di lapangan. Karena itu, ia meminta organisasi perangkat daerah terkait melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kebutuhan tenaga kerja agar pelayanan pengangkutan dan pengelolaan sampah dapat berjalan optimal.

Menurutnya, keberhasilan penanganan sampah tidak hanya ditentukan oleh teknologi, tetapi juga didukung oleh sistem kerja yang kuat, mulai dari proses pengumpulan, pemilahan, pengangkutan hingga pengolahan akhir.

“Kalau Samarinda ingin menjadi kota yang bersih dan berkelanjutan, maka pembenahan harus dilakukan secara menyeluruh. Infrastruktur diperkuat, teknologi disiapkan, dan partisipasi masyarakat juga harus dibangun secara serius,” pungkasnya.(adv)


Bagikan

Related Posts