Solidaritas,Samarinda– Transformasi pendidikan digital di Kota Samarinda terus bergerak maju. Sebanyak 49 Sekolah Menengah Pertama (SMP) kini telah menerapkan sistem pembelajaran berbasis digital sebagai bagian dari adaptasi terhadap perkembangan teknologi di dunia pendidikan.
Namun di tengah capaian tersebut, DPRD Kota Samarinda mengingatkan bahwa masih ada persoalan mendasar yang perlu segera diselesaikan, yakni ketimpangan akses internet yang masih terjadi di sejumlah wilayah.
Anggota Komisi IV DPRD Kota Samarinda, Anhar, menilai digitalisasi pendidikan merupakan sebuah keniscayaan yang tidak bisa dihindari. Menurutnya, perkembangan teknologi telah mengubah cara belajar dan mengajar sehingga sekolah dituntut untuk mampu beradaptasi.
“Sekarang sistem pendidikan memang sudah bergerak ke arah digital. Mau tidak mau sekolah harus menyesuaikan,” ujar Anhar, Jumat (30/5/2026).
Meski demikian, ia menegaskan keberhasilan digitalisasi pendidikan tidak bisa hanya diukur dari jumlah sekolah yang telah menggunakan perangkat teknologi atau aplikasi pembelajaran. Yang lebih penting, kata dia, adalah memastikan seluruh siswa memiliki kesempatan yang sama untuk mengakses layanan pendidikan digital.
“Kalau infrastrukturnya belum merata, nanti yang terjadi justru kesenjangan kualitas pendidikan,” tegasnya.
Menurut Anhar, persoalan jaringan internet di sekolah kini bukan lagi sekadar kendala teknis, melainkan menyangkut masa depan kualitas sumber daya manusia daerah. Ketika sekolah-sekolah di pusat kota dapat menikmati akses pembelajaran digital secara optimal, sementara sekolah di kawasan pinggiran masih bergelut dengan masalah konektivitas, maka jurang kualitas pendidikan berpotensi semakin melebar.
Ia mengungkapkan masih ada sejumlah wilayah yang menghadapi persoalan sinyal internet, sehingga proses pembelajaran berbasis digital belum dapat berjalan maksimal.
“Beberapa wilayah masih terkendala sinyal. Di daerah seperti Bantuas sampai Balik Buaya Bukuan itu masih sering lemah,” ungkapnya.
Kondisi tersebut dinilai menjadi tantangan serius bagi upaya pemerataan pendidikan di Samarinda. Sekolah yang memiliki akses internet stabil tentu akan lebih cepat beradaptasi dengan metode pembelajaran modern dibanding sekolah yang masih terkendala jaringan dasar.
Karena itu, ia meminta pemerintah tidak terlalu cepat berpuas diri dengan capaian puluhan sekolah digital yang telah terbentuk. Menurutnya, transformasi pendidikan harus diiringi dengan pembangunan infrastruktur pendukung yang merata agar manfaatnya benar-benar dirasakan seluruh siswa.
“Jangan sampai ada sekolah yang sudah maju dengan sistem digital, tapi ada juga yang masih tertinggal hanya karena persoalan jaringan,” katanya.
Menurutnya, keberhasilan suatu daerah dalam meningkatkan kualitas pendidikan saat ini tidak hanya ditentukan oleh besarnya anggaran yang dimiliki, tetapi juga kemampuan pemerintah menghadirkan layanan pendidikan yang merata dan mudah diakses seluruh masyarakat.
“Ini jadi evaluasi buat kita bahwa pemerataan pendidikan digital masih harus diperkuat,” pungkasnya.(Adv)









