Samarinda, Solidaritas – Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas I Samarinda mengambil langkah tegas menyusul rentetan insiden kapal tongkang yang menghantam pilar Jembatan Mahakam Ulu (Mahulu). Dalam rapat koordinasi lintas instansi bersama Ditpolairud pada Rabu (28/1/2026), dipastikan bahwa perusahaan pemilik kapal akan bertanggung jawab penuh atas kerusakan fasilitas publik tersebut.
Kepala KSOP Kelas I Samarinda, Mursidi, menegaskan bahwa tidak ada ruang bagi pelanggar untuk lepas tangan. Ia menyatakan bahwa setiap kejadian pelayaran yang merusak fasilitas umum memiliki konsekuensi hukum yang jelas dan telah disepakati oleh seluruh pihak terkait.
“Penabrak bertanggung jawab dan sudah menyatakan siap mengganti kerusakan. Ini berlaku untuk kejadian tanggal 23 Desember, 4 Januari, termasuk insiden terakhir pada hari Minggu,” ujar Mursidi dengan nada lugas.
Meskipun nilai ganti rugi saat ini masih dalam tahap penghitungan oleh dinas teknis, Mursidi mengungkapkan bahwa komitmen perusahaan mencakup perbaikan menyeluruh. Bahkan, terdapat rencana pembangunan fasilitas baru di kawasan Mahulu untuk mengganti vendor atau sarana yang rusak akibat benturan tersebut.
“Yang jelas, fasilitas yang rusak akan diganti, bahkan nantinya akan dibangun yang baru, termasuk di kawasan Mahulu,” jelasnya.
Selain masalah ganti rugi, KSOP melakukan evaluasi mendalam terhadap sistem “pengolongan” atau melintas di bawah jembatan. Pembatasan jam operasional selama ini dinilai memicu penumpukan kapal di sekitar jembatan, yang meningkatkan risiko kecelakaan akibat kapal tambat di lokasi yang tidak direkomendasikan.
Sebagai langkah mitigasi, KSOP kini membuka opsi pengolongan hingga 24 jam penuh dengan dukungan teknis ekstra. “Pada kondisi air surut pun, kedalaman sebenarnya masih memungkinkan dengan dukungan teknis seperti penambahan tug assist,” tambahnya.
Guna memastikan insiden serupa tidak terulang, ke depan akan diberlakukan kebijakan penambahan kapal pengawal (escort) sebagai pengamanan sementara. Langkah ini diharapkan menjadi “perisai” bagi jembatan-jembatan di Samarinda, sekaligus memastikan urat nadi transportasi sungai tetap berjalan lancar dan aman. (Red)








