Kutai Kartanegara, Solidaritas- Festival Hudoq Tahariq menjadi ajang penting bagi masyarakat Dayak Bahau Busang untuk melestarikan kearifan lokal dan budaya mereka. Festival ini menampilkan tarian Hudoq, sebuah ritual penuh makna yang diwariskan secara turun-temurun.
Kepala Desa Loa Kulu Kota, Muhammad Rizali, menyampaikan bahwa pelaksanaan festival ini merupakan upaya melestarikan kearifan lokal yang masih alami dan belum terpengaruh budaya modern.
“Kita ingin memperkenalkan bahwa di Kecamatan Loa Kulu ini ada kearifan lokal yang masih natural, belum campuran kontemporer. Sekaligus kita mau mempromosikan Desa Loa Kulu Kota agar dikenal lebih luas,” ujar Rizali.
Bagi masyarakat Dayak Bahau Busang, tarian Hudoq bukan sekadar pertunjukan bertopeng, melainkan ritual penuh makna yang diwariskan secara turun-temurun. Setiap gerakan dari kiri, kanan, hingga maju ke depan melambangkan penghormatan dan doa untuk kesejahteraan kampung.
Lebih dari sekadar tradisi, Hudoq Tahariq adalah pesan warisan leluhur tentang hubungan manusia dengan alam dan Sang Pencipta. Melalui festival ini, masyarakat Dayak Bahau Busang menunjukkan bahwa nilai-nilai spiritual dan budaya mereka tetap hidup, dijaga, dan diteruskan kepada generasi berikutnya.
Festival ini menjadi ajang penting bagi masyarakat Dayak Bahau Busang untuk memperkenalkan budaya mereka kepada masyarakat luas harapanya kearifan lokal dan budaya Dayak Bahau Busang dapat dikenal dan dihargai oleh masyarakat luas.
Festival Hudoq Tahariq juga menjadi kesempatan bagi masyarakat Dayak Bahau Busang untuk melestarikan tradisi dan budaya mereka sehingga nilai-nilai spiritual dan budaya mereka dapat terus hidup dan diteruskan kepada generasi berikutnya.
Melalui festival ini, masyarakat Dayak Bahau Busang menunjukkan komitmen mereka untuk melestarikan kearifan lokal dan budaya mereka, melalui festival ini dapat menjadi contoh bagi masyarakat lain untuk melestarikan budaya dan tradisi mereka.
Dalam festival ini, masyarakat Dayak Bahau Busang juga menunjukkan kekayaan budaya dan tradisi mereka. Dengan demikian, diharapkan festival ini dapat menjadi ajang penting bagi masyarakat Dayak Bahau Busang untuk memperkenalkan budaya mereka kepada masyarakat luas.

Arnoldus Jansen Kuleh, Ketua Sanggar Seni Apo Lagaan, mengatakan bahwa Hudoq merupakan ritual adat yang sakral dan memiliki makna yang mendalam.
“Upacara adat Hudoq pun juga bukan sekadar acara biasa memakai topeng-topengan yang dapat ditarikan sembarangan,” ujarnya.
Tarian ini memiliki makna yang mendalam dan merupakan bagian penting dari budaya dan kepercayaan masyarakat Dayak Bahau Busang.
“Setiap gerakan yang memiliki makna tertentu, tarian ini merupakan bentuk penghormatan kepada leluhur dan Sang Pencipta, serta sebagai ungkapan syukur atas kemakmuran dan kesehatan yang diberikan,” kata Arnoldus.
Lebih lanjut Arnoldus mengatakan ada 3 rangkaian hudoq, yakni hudoq tahari, hudoq kawit, dan hudoq pakoq. Tari hudoq tahariq dilakukan selama 7 hari kedepan yang merupakan tari upacara syukuran atas selesainya menanam padi.
Tari hudoq merupakan warisan budaya yang patut dijaga dan dilestarikan. Topeng sengaja digunakan sebagai penghormatan kepada leluhur, salah satu cara yang paling umum adalah lewat pentas tari-tarian berisi petuah nenek moyang yang diajarkan secara turun-temurun. ADV/DPMDKukar/Bej










