Kutai Timur, Solidaritas – Kabupaten Kutai Timur (Kutim) saat ini menghadapi tantangan ganda dalam bidang kesehatan. Masih tingginya penyakit menular (PM) seperti Tuberkulosis (TBC), HIV/AIDS, dan Demam Berdarah Dengue (DBD), serta peningkatan kasus penyakit tidak menular (PTM) seperti hipertensi, diabetes melitus, obesitas, kesehatan jiwa, dan kanker serviks.
Plt. Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kutai Timur, Sumarno, mengungkapkan bahwa data pada tahun 2019 tercatat 6.628 warga suspect TBC, dengan 32 pasien meninggal dunia pada tahun 2022.
Kasus HIV juga menjadi perhatian serius di Kutim. Pada tahun 2024 ditemukan 140 kasus baru HIV, dan hingga Agustus 2025 tercatat 104 kasus baru HIV.
” Yang lebih memprihatinkan, 35% di antaranya adalah perempuan usia produktif (20-39 tahun),” kata Sumarno saat ditemui wartawan usai kegiatan puncak peringatan HKNdi Polder Ilham Maulana Sangatta Utara, Rabu (26/11/2025).
Lebih lanjut Suwarno mengatakan Penyakit Tidak Menular (PTM) seperti hipertensi dan diabetes juga meningkat di berbagai wilayah, khususnya pada ibu rumah tangga dan perempuan usia 30 tahun ke atas berdasarkan hasil skrining Posbindu PTM.
Pada kesempatan itu Suwarno mengingatkan kepada warga Kutim bahwa penyakit Kanker serviks menjadi salah satu ancaman serius bagi kesehatan perempuan di Kutai Timur.
Meski demikian lanjutnya, tingkat deteksi dini kanker serviks melalui pemeriksaan IVA (Inspeksi Visual dengan Asam Asetat) masih rendah karena berbagai faktor.
Faktor-faktor yang menyebabkan rendahnya deteksi dini kanker serviks antara lain kurangnya informasi, rasa takut, atau stigma pemeriksaan organ reproduksi.
“Saat ini Dinkes Kutim terus berupaya meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya deteksi dini kanker serviks dan penyakit lainnya. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan melakukan pemeriksaan kesehatan gratis,” jelasnya.
“Namun, tingkat deteksi dini kanker serviks melalui pemeriksaan IVA (Inspeksi Visual dengan Asam Asetat) masih rendah karena berbagai faktor, seperti kurangnya informasi, rasa takut, atau stigma pemeriksaan organ reproduksi,” sebutnya.
Ditambahkan, pemeriksaan IVA tes adalah metode sederhana, efektif, dan murah untuk mendeteksi dini lesi pra- kanker serviks. Dengan hasil langsung yang bisa diketahui dalam waktu singkat, pemeriksaan IVA sangat cocok dilakukan di layanan primer seperti puskesmas dan kegiatan masyarakat.
Dengan adanya upaya ini, diharapkan dapat menurunkan angka kejadian kanker serviks dan meningkatkan kesadaran perempuan untuk menjaga kesehatan reproduksi. ADV









