Samarinda, Solidaritas– Kawasan Konservasi Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) / Kebun Raya Samarinda Kalimantan Timur ditambang pengusaha tambang yang diduga ilegal, akibatnya sejumlah satwa liar dan dilindungi seperti Orangutan terancam bahkan pohon pohon yang digunakan untuk penelitian serta jumlahnya terbatas juga hilang.
Aksi para pelaku dilakukan saat libur Hari Raya, beruntung saat itu sejumlah mahasiswa yang tidak pulang kampung dan sedang melakukan penelitian mendengar kegiatan para pelaku dan kemudian mengabadikan aktifitas tambang Ilegal tersebut menggunakan telpon seluler yang dibawa mereka.
Selama libur Lebaran 2025, tepatnya pada tanggal 4 – 5 April, sebanyak lima unit alat berat diketahui beroperasi di dalam area hutan milik kampus, membuka lahan seluas 3,2 hektare.
Lokasi yang dirusak tersebut adalah habitat penting orangutan serta bagian dari kawasan riset dan pendidikan yang digunakan oleh ribuan mahasiswa setiap tahunnya.
Rustam Fahmy kepala laboratorium alam KHDTK Diklathut Fahutan unmul kepada Solidaritas Selasa (08/4/2025) mengatakan aktivitas tambang ilegal ini bukanlah kejadian baru.
Aktivitas keruk mengeruk “emas hitam” diduga menyerobot kawasan konservasi yang seharusnya steril dari galian alat berat, namun kini hamparan hijau hutan yang menjadi laboratorium alam ini terancam, 3.3 hektare lahan tersebut telah terbuka.
Upaya akademisi dan mahasiswa universitas Mulawarman menjaga sisa-sisa paru kota dari serbuan industri ekstraktif kini sia sia, kini hutan yang menjadi paru paru dunia itu perlahan mulai di lirik para pencari emas hitam.
“Sebenarnya aktivitas penambangan itu sudah sejak lama ada, karena ada IUP (Izin Usaha Pertambangan) yang berbatasan langsung dengan kawasan kami. Pelakunya juga kami duga dari IUP ini,” Kata Rustam.
Unmul lanjutnya sudah melaporkan gangguan penambang ilegal tersebut sejak 13 Agustus 2024 ke Gakkum LHK Kalimantan, namun hingga awal April 2025 belum ada tindak lanjut yang konkret.
“Kami bersurat resmi, tapi tidak ada follow up. Jadi, kami hanya bisa menjaga kawasan dengan monitoring mandiri agar tambang tidak masuk lebih dalam, baru ada kejadian ini kemarin tim Gakum melakukan peninjauaan, kita tunggu saja hasil peninjauan da penyelidikan mereka,” jelas Rustam.
Bukti video yang memperlihatkan lima eksavator yang berada di lokasi tersebut mengeruk dan memindahkan tanah dari lokasi KHDTK Sudah kita serahkan, termasuk data ratusan pohon dengan kerapatan cukup baik berada di lokasi 3.3 Hektare rusak akibat aktifitas pertambangan batu bara.
Kerusakan tersebut terlihat dengan hilangnya pohon pohon pendidikan seperti ulin, dan beberapa pohon pohon langka yang ada di Kalimantan, dan ditambah mengganggu aktivitas satwa liar dan dilindungi seperti orang utan yang ada dikawasan ini.
“Kini Lahan yang sebelumnya tertutup dengan pepohonon ini sudah terbuka, orangutan yang ada dikawasan ini jelas terganggu dan kemungkinan akan menimbulkan konflik baru dengan masyarakat sekitar, dari itu ia menghimbau agar masyarakat segera melaporkan kepada Unmul jika mereka melihat ada orangutan berkeliaran di luar hutan . atau sekitar kebun raya, dan diharapkan tidak dibunuh,” jelas Rustam.,
Sekedar info lanjut Rustam kawasan hutan unmul saat ini dikenal masih sangat bagus. Hutannya sekunder tua yang hingga kini masih terjaga dan merupakan habitat orangutan.
“Kalau masih ada orangutan berarti hutannya masih bagus. Ini jelas sangat berdampak terhadap ekosistem dan kegiatan pendidikan kami,” tegasnya.
Menurutnya, kawasan hutan pendidikan Unmul memiliki luas hampir 300 hektare dan merupakan satu-satunya hutan pendidikan di Kota Samarinda. Setiap tahunnya, ribuan mahasiswa melakukan praktikum, penelitian, dan pembelajaran di kawasan tersebut.
Namun kini lahan itu menjadi terbuka dan berpotensi menjadi tempat penampungan air yang bisa saja menyebabkan banjir dikawasan sekitar hutan penelitian . Kasus penyerobotan inipun telah ditangani oleh pihak kepolisian terlihat diareal tersebut terpasang garis polisi, sementara sejumlah alat berat yang beroperasi dikawasan ini sudah kabur sejak video perambahan hutan ini viral dimasyarakat.
Kejadian ini segera dilaporkan oleh Rustam ke beberapa pihak di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, termasuk mantan Wakil Menteri LHK, Alue Dohong. Laporan itu segera ditindaklanjuti secara cepat.
“Pak Alue teruskan laporan itu ke pejabat kementerian, dan langsung ada kunjungan lapangan dari pihak Gakkum, Kepala Dinas Kehutanan, Kepala Dinas ESDM, serta Dekan Fakultas kami, atas arahan pak Gubernur Rudy Mas’ud,” lanjutnya.
“Sementara ini saya tidak bisa menyampaikan angka tapi seperti yang ada didataran rendah, dalam satu hektare itu bisa lebih dari seratus spesies pohon atau tumbuhan, jadi ada data memang sejak tahun 80 an wilayah ini sudah ada penelitian – penelitian satu hektare ini diangka 100 spesies, termasuk ulin kemudian jenis jenis tirpio karpace, ada disini,” Kata Rustam.
Sementara itu dekan fakultas kehutanan universitas mulawarman prof. Dr. Irawan wijaya kusuma, s.hut. M.p
Mengatakan bahwa perambahan ini menjadi perhatian serius fakultas kehutanan unmul.
Untuk menindaklanjuti hal ini kasus perambahan atau pengerusakan hutan yang digunakan untuk penelitian mahasiswa unmul fakultas kehutanan ini telah dilaporkan ke kementrian kehutanan dan juga gakkum kehutanan untuk ditindak lanjuti proses hukumnya.
“Fakultas kehutanan memang menjadi kan itu menjadi salah satu semacam lokasi untuk pembelajaran yang sangat efektif, kita tidak perluh jauh untuk melihat bagaimana variasi tumbuhan, bagaimana habitan buat satwa, mahasiswa bisa berkunjung praktek dan lain lain, tapi fungsi fungsi apa harus kami jalankan sesuai dengan apa yang sudah dibebankan sebagai pengelola,” kata Irawan Wijaya Kusuma.
KHDTK bukan sekadar ruang hijau, tapi juga laboratorium alam bagi mahasiswa dan akademisi unmul yang sejak lama berjuang menjaga keberlanjutan hutan kota di tengah derasnya arus industri ekstraktif, jika penambangan terus dibiarkan menyerobot kawasan konservasi, bukan hanya ekosistem yang terancam, tapi juga masa depan pendidikan dan lingkungan hidup di Kalimantan Timur. Red









