Samarinda, Solidaritas – Jagad maya dihebohkan oleh beredarnya sebuah video pendek yang memperlihatkan tindakan represif dari seorang ajudan Gubernur Kalimantan Timur.
Oknum anggota Korps Brimob Polda Kaltim tersebut terekam kamera mendorong ponsel genggam milik mahasiswa yang sedang merekam dan menabrakkan tubuhnya (membodi) dengan keras ke arah mahasiswa lainnya.
Ironisnya, tindakan kasar ini terjadi justru di halaman Masjid Nurul Mu’minin, kompleks Kantor Gubernur Kaltim, pada Senin malam, selepas mahasiswa membubarkan diri dari aksi damai.
Peristiwa ini bermula ketika puluhan mahasiswa yang bergabung dalam Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) menggelar aksi unjuk rasa sejak Senin sore. Mereka menuntut penanganan serius terkait Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla), dampak kabut asap, serta tingginya kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kaltim.
Aksi ini juga bertepatan dengan momentum peringatan 2 tahun pemerintahan Prabowo-Gibran.
Massa sejatinya telah membubarkan diri secara tertib tepat pukul 18.00 WITA dan bergerak menuju titik kumpul di Masjid Nurul Mu’minin. Namun, di tempat tersebut, mereka secara tidak sengaja berpapasan dengan Gubernur Kaltim, Rudi Mas’ud, yang baru tiba untuk menunaikan ibadah salat Magrib.
Melihat keberadaan sang kepala daerah, sejumlah mahasiswa berniat mendekat secara santai sekadar untuk menanyakan alasan mengapa Gubernur tidak menemui mereka saat aksi unjuk rasa berlangsung. Bukannya mendapat jawaban dialogis, rombongan mahasiswa justru dihadang secara agresif oleh sang ajudan.
Humas Aksi GMNI Kaltim, Adi Hidayat, menyayangkan reaksi berlebihan dari pengawal gubernur tersebut. Menurutnya, mahasiswa sama sekali tidak melakukan intimidasi, apalagi berupaya menghalangi jalan masuk Gubernur ke dalam masjid.
“Ajudannya sendiri keluar dari jalur langsung mengepak (menabrak) salah satu kader kami yang posisinya padahal cukup jauh. Padahal akses jalan untuk Gubernur Rudi Mas’ud itu sudah steril, tidak ada yang menghalangi,” terang Adi saat dikonfirmasi.
Akibat benturan keras tersebut, kamera ponsel milik mahasiswa yang sedang mendokumentasikan momen tersebut terjatuh. Tidak hanya kerugian materil, dampak kontak fisik sepihak itu berujung cedera serius.
“Kawan dan kader kami ditabrak hingga bahunya mengalami retak beberapa sentimeter. Padahal kami menyambut kedatangan Gubernur dengan santai karena beliau mau beribadah,” sesal Adi.
Insiden viral ini langsung memantik reaksi keras dari akademisi. Pakar Hukum Universitas Mulawarman (Unmul), Herdiansyah Hamzah, menilai bahwa tindakan kasar seorang ajudan di lapangan tidak bisa dilepaskan dari bagaimana instruksi atau pembawaan dari atasan yang dikawalnya.
“Jika ada reaksi berlebihan dari seorang ajudan, ini mencerminkan watak dari seorang gubernur,” ujar pria yang akrab disapa Castro ini secara blak-blakan.
Menurutnya, secara logika sederhana, tidak mungkin seorang ajudan berani mengambil tindakan agresif dan antipati terhadap masyarakat atau mahasiswa tanpa adanya arah kebijakan pengamanan dari sang pemimpin.
“Saya kira Gubernur paham dan tahu itu. Bisa jadi ini adalah request atau perintah dari Gubernur sendiri untuk mengamankan setiap persoalan dan membatasi ruang publik meminta pertanggungjawaban. Jadi situasi ini menggambarkan watak asli dari seorang gubernur yang tertutup terhadap media maupun mahasiswa, yang akhirnya tercermin dari sikap ajudannya sendiri,” tegas Castro.
Sementara itu, pihak Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur belum memberikan pernyataan resmi terkait insiden yang mencoreng wajah birokrasi ini. Juru Bicara Gubernur Kaltim yang juga menjabat Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Pemprov Kaltim belum bisa dimintai keterangan, lantaran pada waktu yang bersamaan sedang mendampingi agenda pelantikan pejabat eselon 2 di lingkungan Pemprov Kaltim. Red









