Catatan Rizal Effendi
ADA dua tokoh menarik di tengah-tengah acara puncak pesta budaya Erau 2026 di Tenggarong, Minggu (27/9). Kedua orang itu adalah Kepala Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) Basuki Hadimuljono yang akrab dipanggil Pak Bas dan mantan Bupati Kukar, Rita Widyasari yang akrab disapa Bunda Rita.
Kedua-duanya dapat perhatian khusus dari warga. Pak Bas mengaku baru pertama kali mengikuti dan menyaksikan betapa meriahnya pesta Erau, sedang Bunda Rita juga pertama kali bisa menghadiri kembali acara ini setelah kebebasannya menjalani hukuman.
Pak Bas mendapat kehormatan duduk di samping Sultan Kutai Ing Martadipura, Aji Muhammad Arifin. Dia penuh semangat mengikuti berbagai prosesi, mulai menurunkan dua naga laki bini sampai acara belimbur. Dia datang bersama istrinya, Kartika Nurani yang juga tampak ceria dan mengenakan busana adat Kutai, yang mirip busana Betawi.
Baik Pak Bas maupun Bunda Rita, kedua-duanya ikut berlimbur. Badannya basah kuyup. Tapi dia ceria mengkuti prosesi tersebut. “Salah satu tujuan belimbur adalah penyucian diri, agar kita menjadi manusia baik dan bermartabat,” ujar Bupati Kutai dr Aulia Rahman.
Menandai acara berlimbur itu, terlebih dahulu dilakukan ritual pengambilan “air tuli” atau air suci dari Kutai Lama. Lalu air itu dipercikkan Sultan menandai dimulainya acara belimbur. Selanjutnya masyarakat dipersilahkan menggunakan air Mahakam. Tapi Kesultanan dan Pemkab Kukar mengingatkan kepada warga tidak boleh menggunakan air kotor atau air yang berbahaya bagi orang yang terkena siraman.
Pak Bas menjanjikan tahun depan IKN juga melaksanakan Erau. “Sultan minta begitu, ya silahkan di IKN,” katanya menjawab pertanyaan wartawan.
Bupati Kutai Aulia Rahman menjelaskan, Erau yang dilaksanakan di beberapa tempat termasuk nanti di IKN adalah bagian dari Erau sebagai pesta budaya Kutai. “Tapi puncaknya Erau tetap dilaksanakan di Tenggarong,” ujarnya.
Pesta budaya Erau diakui Pak Bas mengasyikkan. Dia baru pertama kali mengikuti puncak perayaan Erau. “Saya baca-baca ternyata Erau adalah pemersatu antara pemimpin dan rakyatnya, antara pemimpin dengan lingkungannya . Ini mengispirasi kami di IKN, bahwa membangun kota yang cerdas dan futuristik tidak melupakan budaya lokalnya. Makanya kami sudah ada rencanakan dan sudah ada sayembayanya membangun Pusat Kebudayaan Nusantara (PKN) termasuk Kebudayaan Kutai Kartanegara,” jelasnya.
Dari pemberitaan sebelumnya, PKN akan dibangun di atas lahan seluas 33,38 hektare di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP).
Otorita IKN sudah mengumumkan pemenang sayembara desainnya yaitu desain bertajuk Cerlang Nusantara karya tim arsitek Gregorius Yori Antar A (Yori Antar).
Konsep arsitekturnya terinspirasi dari akar peradaban tertua Nusantara yaitu era megalitikum dengan bentuk bangunan utama yang prismatik dan memadukan keharmonisan alam serta tradisi lokal.
Nantinya PKN memiliki 6 unit bangunan utama yang mencakup museum, gedung konser atau auditorium (consert hall), perpustakaan, galeri seni dan gelanggang olahraga. Sedang plaza utamanya terdiri dari Plaza Demokrasi dan Plaza Adi Budaya.
BUNDA RITA CERIA
Yang juga ramai mendapat sambutan warga Tenggarong adalah kehadiran Bunda Rita. Mulai dari Kedaton sampai di jalan-jalan dia selalu disapa masyarakat. “Dia masih dicintai rakyat Tenggarong,” kata seorang netizen.
Rita sempat berjalan bersama Wakil Bupati Kukar H Rendy Solihin dan istrinya, Hj Fety Puja Amelia. Mereka tertawa lebar ketika terkena siraman warga dan semprotan air dari mobil tangki pemadam dan mobil water canon kepolisian.
“Ini Erau tergokil,” kata Rendy sambil berbasah ria bersama Bunda Rita. Gokil adalah bahasa gaul yang berarti luar biasa, keren, hebat atau gila dalam konteks positif untuk menyatakan rasa kekaguman.
Rita adalah Bupati Kukar 2010-2015. Ketika memasuki jabatan kedua 2016-2021 dia tersandung kasus gratifikasi di KPK, sehingga di pertengahan jalan (Oktober 2017) jabatannya diganti oleh wakilnya, Edi Damansyah.
Perempuan berusia 52 tahun ini adalah anak kedua Bupati Kukar, Syaukani HR. Baik Rita maupun Syaukani dikenang warganya sebagai bupati yang sangat perhatian dengan masyarakat, sehingga sampai sekarang tetap dicintai warganya.
Menurut Rita, kemeriahan belimbur tidak hanya sebatas ramai-ramai saling siram. Tetapi yang perlu dijaga dan dihayati adalah nilai-nilai moral dan budaya yang terkandung di balik tradisi tersebut.
“Basah-basahan dalam ritual belimbur memang unik dan perlu dilestarikan sebagai warisan budaya Kutai. Karena di situ terkandung makna yang dalam sebagai bentuk penyucian diri,” katanya menjelaskan.
Sepulang dari belimbur, Rusli, warga Balikpapan mengaku bahagia karena hujan turun di kotanya meski dalam durasi pendek. Dia berharap hikmah belimbur mendatangkan hujan lebat yang sudah dinanti-nanti berbulan-bulan. Fenomena El Nino telah membuat bumi Kalimantan termasuk Kaltim kering kerontang. Apa ini peringatan atau hukuman dari Tuhan atas kelalaian manusia memperlakukan alam?.(*)









