Samarinda, Solidaritas – Musim kemarau dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Kalimantan Timur belakangan ini tidak hanya berdampak bagi manusia. Di balik pekatnya kabut asap dan gersangnya vegetasi, puluhan satwa liar endemik harus berjuang ekstra mempertahankan hidup dari ancaman kerusakan habitat yang kian nyata.
Sepanjang periode Agustus hingga September 2026, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur bergerak cepat menyisir titik-titik rawan untuk menyelamatkan 39 individu satwa liar yang terdampak bencana ekologis ini.
Operasi penyelamatan intensif ini tersebar di tujuh daerah, mulai dari Kota Samarinda, Kutai Kartanegara, Kutai Timur, Kutai Barat, Berau, Bontang, hingga Paser.
“Upaya penanganan terpadu ini dijalankan secara intensif oleh tim BKSDA Kaltim bersama mitra konservasi melalui tiga puluh laporan kegiatan,” ujar Kepala BKSDA Kaltim, M Ari Wibawanto, di Samarinda.
Dari puluhan satwa yang berhasil dievakuasi, cerita paling menyentuh datang dari para primata langka. Tim Wildlife Rescue Unit (WRU) BKSDA Kaltim harus melakukan evakuasi khusus terhadap 11 individu orangutan Kalimantan dari kawasan Sekolah Hutan Yayasan Jejak Pulang KHDTK Samboja.
Keputusan ini diambil bukan tanpa alasan. Kabut asap pekat akibat karhutla yang mengepung kawasan hutan dinilai sangat berbahaya bagi kesehatan pernapasan primata dilindungi tersebut. Untuk menyelamatkan mereka dari pajanan asap, mereka dipindahkan sementara ke kandang karantina di Kilometer 38.
Secara keseluruhan, ada 19 individu orangutan Kalimantan yang berhasil diselamatkan selama dua bulan terakhir. Selain orangutan, tim medis juga mengevakuasi satwa lain yang kehilangan tempat bernaung, termasuk 6 trenggiling, 5 kukang, 3 lutung kelabu, 2 elang, serta masing-masing 1 individu beruang madu, bekantan, tarsius, dan lutung merah.
Proses penyelamatan tidak berhenti setelah satwa dievakuasi dari lokasi berbahaya. BKSDA Kaltim menerapkan tindakan presisi berdasarkan kondisi fisik masing-masing satwa melalui skema rehabilitasi, translokasi, hingga penitipan.
Bagi satwa yang mengalami trauma atau penurunan kondisi fisik, mereka kini sedang menjalani masa pemulihan di fasilitas khusus seperti PRO COP, PRS CAN Borneo, dan PRO BOSF Samboja Lestari. Di sana, tim medis bekerja paruh waktu untuk memastikan fisik dan sifat liar mereka pulih sepenuhnya.
Sementara itu, bagi satwa yang dinyatakan sehat dan siap, rumah baru yang lebih aman telah menanti. BKSDA Kaltim telah mengarahkan skema pelepasliaran atau translokasi menuju kawasan konservasi yang jauh dari jangkauan api, seperti Cagar Alam Muara Kaman Sedulang dan Hutan Lindung Batu Mesangat.
Keberhasilan menyelamatkan puluhan nyawa ini tidak lepas dari sinergi erat antara BKSDA Kaltim, mitra konservasi, dan laporan aktif dari masyarakat. BKSDA Kaltim menyadari bahwa menjaga keberlanjutan ekosistem satwa endemik adalah tanggung jawab bersama, terlebih di masa-masa kritis akibat perubahan cuaca ekstrem.
Guna mempercepat respons penyelamatan di lapangan, masyarakat yang melihat atau menemukan satwa liar yang membutuhkan pertolongan medis diimbau untuk segera melapor. BKSDA Kaltim telah menyediakan layanan call center penyelamatan satwa liar resmi di nomor 0821-1333-8181.
“Masyarakat yang menemukan satwa liar membutuhkan pertolongan medis diimbau segera melapor melalui saluran siaga panggilan resmi BKSDA,” pungkas Ari. Red









