Samarinda, Solidaritas – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Timur kian meluas dan meresahkan masyarakat. Kabut asap pekat tidak hanya mengganggu pernapasan, tetapi kobaran api kini mulai merayap mendekati permukiman warga.
Kondisi darurat ini memaksa petugas BPBD dan pemadam kebakaran bekerja ekstra keras di garda terdepan.
Namun, di tengah keterbatasan personel dan luasnya area yang terbakar, muncul secercah harapan dari kepedulian warga biasa. Mereka memilih hadir di garis depan, bahu-membahu membantu petugas pemadam kebakaran maupun BPBD Kaltim menjinakkan si jago merah. Salah satunya adalah Iwan.
Sehari-harinya, pria asal Samarinda ini menggantungkan hidup sebagai seorang juru parkir. Namun, ketika melihat ruang hidupnya terancam oleh api, Iwan memilih melepaskan peluit parkirnya dan berlari menuju lokasi kebakaran.
Tanpa seragam taktis yang tahan api, ia hanya bermodalkan peralatan seadanya hasil hibah kelompok lain—yang ironisnya, kondisinya sudah banyak yang rusak.
“Baru-baru ini karena tarik-tarik (selang), akhirnya lepas. Ya kerjanya sehari-hari cuma tukang parkir aja. Tapi karena kemanusiaan, kita harus saling membantu,” ujar Iwan dengan peluh yang membasahi wajahnya.
Aksi solidaritas warga sipil tidak berhenti pada Iwan. Di sudut lain Kota Samarinda, seorang warga bernama Pani memberikan kontribusi penting lewat jalur yang berbeda: kreativitas memanfaatkan barang bekas di rumahnya.
Pani berhasil menyulap hand sprayer (alat semprot tangan) bekas disinfektan peninggalan wabah Covid-19 menjadi alat pemadam kebakaran portabel yang tangguh.
Sistem pompa tangan konvensional pada alat tersebut ia modifikasi menggunakan daya baterai. Tak sampai di situ, ia mengombinasikannya dengan nozzle jet cleaner elektrik—alat yang biasa digunakan untuk mencuci kendaraan.
Hasilnya luar biasa. Modifikasi rakitan Pani ini menghasilkan semprotan air yang sangat tajam dan bertekanan tinggi. Alat portabel ini menjadi senjata ampuh untuk mematikan bara api yang bersembunyi di dalam lapisan dalam tanah gambut.
“Kalau kita pakai tekanan biasa paling kecil segini aja, cuma tajam juga. Tapi kalau ditambah ini, tenaganya dapat, jadi bisa masuk (ke dalam gambut),” jelas Pani sembari menunjukkan alat ciptaannya. Tadi kebetulan pas api nyala juga, teman-teman gak bisa mencapai. Jadi minta basahi di belakang, saya maju menggunakan ini. Jadi matikan pas di bagian akar, akhirnya perambatan bisa dicegah,” jelas Pani.
Meski kontribusi keduanya belum mampu memadamkan seluruh area yang terbakar, kehadiran Iwan dan Pani menjadi bukti nyata dari kekuatan kepedulian warga sipil.
Di saat kabut asap menyesakkan dada dan api terus mengancam, kedua warga Samarinda ini menunjukkan bahwa untuk menjadi pahlawan di garda depan, yang dibutuhkan bukanlah seragam canggih, melainkan besarnya rasa kemanusiaan. Red









