Samarinda, Solidaritas – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda area sekitar Bandara Internasional Aji Pangeran Tumenggung (APT) Pranoto Samarinda memaksa otoritas terkait memperketat pemantauan kualitas udara dan atmosfer.
Kombinasi asap kebakaran dan kabut pagi sempat memicu penurunan jarak pandang (visibility) yang drastis hingga menyentuh angka 50 meter.
Meskipun sempat terjadi penurunan jarak pandang yang ekstrem, aktivitas penerbangan di bandara tersebut dilaporkan belum terganggu secara signifikan. Pemantauan kondisi cuaca kini dilakukan secara intensif selama 24 jam penuh sebagai langkah mitigasi keselamatan penerbangan.
Kepala Stasiun Meteorologi Kelas II APT Pranoto Samarinda, Riza Arian Noor, mengonfirmasi bahwa titik api terdeteksi berada di sisi barat runway (landasan pacu) selama beberapa hari terakhir.
“Memang hampir tiga sampai empat hari ini terjadi kebakaran di sisi runway sebelah barat. Artinya kebakaran ini walaupun anginnya tidak langsung mengarah ke runway, karena visibilitasnya masih cukup bagus sehingga operasi penerbangan secara umum tidak banyak terganggu,” ujar Riza pada Minggu (20/9/2026).
Riza menjelaskan, risiko paling tinggi terjadi pada waktu pagi hari. Kawasan Bandara APT Pranoto secara geografis memang memiliki karakteristik alami yang sering diselimuti kabut tebal pada pagi hari, bahkan saat tidak terjadi kebakaran. Namun, kehadiran asap karhutla memperparah keadaan.
“Pagi hari itu visibility-nya cukup pendek, paling pendek sampai 50 meter. Kalau pagi itu percampuran yang ada. Ditambah lagi dengan adanya pembakaran-pembakaran di sekitar bandara sehingga kabut itu tercampur dengan asap dan mengurangi jarak pandang,” tutur Riza.
Kendati demikian, kondisi ekstrem ini tidak berlangsung lama. Memasuki pukul 08.00 hingga 09.00 WITA, jarak pandang dilaporkan berangsur membaik dan terbuka hingga di atas lima kilometer, sehingga operasional bandara dapat kembali berjalan normal.
Guna memastikan aspek keselamatan penerbangan tetap terpenuhi di tengah ancaman karhutla, Stasiun Meteorologi APT Pranoto mengandalkan teknologi Automatic Weather Observation System (AWOS). Perangkat canggih ini ditempatkan di tiga titik ujung runway dan beroperasi penuh secara otomatis.
“Peralatan ini secara otomatis memberikan informasi arah dan kecepatan angin, bagaimana perawanan, visibility, hingga suhu. Semuanya otomatis real-time dan melakukan update setiap satu menit,” jelas Riza.
Data yang dihimpun oleh sistem AWOS ini kemudian diperbarui secara rutin setiap 30 menit sekali sebagai instrumen utama dalam penyediaan layanan meteorologi penerbangan.
“Di sini tugas fungsi utamanya adalah layanan penerbangan. Kita memberikan informasi cuaca untuk keselamatan penerbangan,” pungkasnya. Red









