Samarinda, Solidaritas – Sudut-sudut Kota Samarinda, Kalimantan Timur, kini kehilangan pesona alaminya. Sejak beberapa hari terakhir, wajah Ibu Kota Kaltim ini berubah menjadi putih kelabu, terbungkus rapat oleh selimut kabut asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kian merajalela.
Suasana kota terasa mencekam sekaligus sunyi. Jarak pandang yang merosot tajam bahkan memaksa para pengendara menyalakan lampu utama kendaraan mereka pada siang hari. Di udara, bau menyengat khas kayu terbakar merangsek masuk ke pemukiman hingga ruang-ruang publik.
Ketika Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) resmi menembus kategori tidak sehat, Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda tidak punya pilihan lain selain mengambil langkah darurat demi menyelamatkan generasi masa depannya.
Mulai tanggal 17 hingga 19 September 2026, Pemkot Samarinda resmi menghentikan sementara aktivitas belajar mengajar tatap muka di sekolah. Seluruh siswa dari berbagai jenjang dialihkan ke sistem Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) alias sekolah daring.
Langkah tegas ini diambil sebagai benteng perlindungan agar anak-anak tidak terpapar langsung oleh racun di udara.

Di lapangan, dampak kesehatan nyata sudah mulai menyerang ruang-ruang kelas sebelum kebijakan ini diketuk. Maesa, seorang guru di SMP Negeri 7 Samarinda, menceritakan bagaimana kondisi anak didiknya bertumbangan akibat kabut asap yang menebal sejak dua hari sebelumnya.
“Diliburkan memang dari Diknas, selama dua hari. Sudah banyak anak-anak ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut). Asap sudah mulai tebal dari dua hari yang lalu, tebal banget. Anak-anak banyak yang batuk,” kata Maesa dengan nada khawatir kamis (17/9/2026).
Pekatnya polusi juga mengubah cara warga beraktivitas di luar ruangan. Di beberapa fasilitas publik, sejumlah warga yang mencoba bertahan menjaga kebugaran terpaksa berolahraga dengan masker yang melekat erat di wajah.
Salah satunya adalah Sukat (65), warga Kelurahan Air Hitam, Samarinda. Meski menyadari bahaya yang mengintai paru-parunya, pria lansia ini memilih tetap melangkahkan kaki di lintasan olahraga karena sudah menjadi rutinitas wajibnya.
“Rutin tiap hari tiga putaran. Ya, paling pekat memang hari ini,” ujar Sukat, sambil membenahi maskernya di tengah kepungan asap kelabu.
Kini, suasana riuh riang di halaman sekolah digantikan oleh kesunyian rumah. Pengalihan sistem belajar ke rumah secara daring ini diharapkan mampu menekan angka kasus ISPA pada anak secara signifikan.
Seiring dengan kebijakan ini, Pemkot Samarinda mengeluarkan imbauan keras kepada para orang tua. Mereka diminta memperketat pengawasan dan memastikan anak-anak tetap berada di dalam rumah, serta tidak memanfaatkan momen libur sekolah ini untuk bermain di luar ruangan.
Saat ini, Pemkot bersama BPBD Kota Samarinda terus berjaga dan memantau pergerakan kualitas udara secara real-time. Evaluasi berkala akan terus dilakukan sebelum pemerintah mengambil keputusan untuk membuka kembali pintu-pintu kelas dan membiarkan anak-anak Samarinda kembali menghirup udara yang aman. Red









