Kab. Kutai Kartanegara

 Dari Delta Tak Berpenghuni hingga Jadi Magnet Wisata Modern di Tengah Sungai Mahakam

Bagikan

Kutai Kartanegara, Solidaritas — Nama Pulau Kumala yang membentang di tengah Sungai Mahakam, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), kembali ramai menjadi perbincangan hangat.
Delta unik seluas sekitar 81–85 hektar dengan bentuk menyerupai kapal raksasa ini tidak sekadar menawarkan panorama alam yang menawan. Pulau ini juga menyimpan rekam jejak sejarah dan mitologi yang kuat bagi warga Kalimantan Timur.
Daya tarik magis dan nilai sejarah Pulau Kumala tidak hanya memikat hati wisatawan domestik. Destinasi ini juga sukses mencuri perhatian media nasional. Baru-baru ini, keunikan delta di tengah Sungai Mahakam tersebut memikat Dave Aurel, presenter program Secret Story TRANS7. Ia turun langsung melakukan peliputan bersama juru kamera Ncang Andrii.
Sebagai program dokumenter yang dikenal tajam dalam menguak fakta, sejarah, legenda, misteri, hingga kisah inspiratif masyarakat, tim Secret Story secara khusus mengulik lebih dalam tentang rahasia dan pesona yang tersimpan di jantung Sungai Mahakam ini. Kehadiran tim produksi televisi nasional ini menjadi bukti bahwa narasi sejarah dan aura mistis Pulau Kumala memiliki nilai jual tinggi yang diakui secara luas.
Dalam penelusurannya, tim Secret Story membongkar lapisan demi lapisan kisah Pulau Kumala. Mereka mengulas mulai dari sisi ilmiah bentukan alamnya, mitos kemunculan Putri Karang Melanu, hingga transformasinya dari pulau tak berpenghuni menjadi salah satu ikon wisata andalan Kabupaten Kutai Kartanegara.
Sorotan kamera mereka tidak hanya menangkap keindahan visual pulau, tetapi juga merekam esensi magis yang selama ini menjadi buah bibir di tengah masyarakat lokal.
Bagi masyarakat Kutai Kartanegara, peliputan khusus ini diharapkan dapat mengangkat kembali pamor Pulau Kumala di kancah nasional. Publikasi yang mendalam mengenai sejarah dan misteri pulau ini diyakini mampu memicu gelombang rasa penasaran baru bagi wisatawan luar daerah.
Langkah ini sekaligus mendukung upaya pemerintah daerah dalam menggeliatkan kembali sektor pariwisata pasca-revitalisasi.
Rencana besar pemerintah daerah untuk terus merevitalisasi kawasan ini menjadi pusat wisata modern membuat kilas balik sejarah pulau ini kian dicari tahu oleh publik. Terlebih dengan rencana kehadiran spot foto ikonik seperti rumah adat Lamin dan rumah Pasak.
Secara geologis, Pulau Kumala terbentuk dari sedimentasi lumpur yang mengendap bertahun-tahun di dasar Sungai Mahakam. Sebelum tahun 2000, tempat ini merupakan sebuah pulau kosong tak berpenghuni yang dipenuhi oleh semak belukar serta hutan rimbun pohon ulin, meranti, dan bengkirai.
Hutan alami ini dulunya menjadi rumah aman bagi kawanan bekantan, kera hidung panjang endemik khas Kalimantan.
Awang Rifani saat menjelaskan makna patung pada lamin adat Suku Dayak yang ada di Pulau Kumala. Foto : Bejo
Namun, di balik penjelasan ilmiah tersebut, masyarakat lokal mempercayai sebuah legenda yang mengakar kuat. Berdasarkan kacamata kebudayaan yang dituturkan oleh Awang Rifani, akademisi dan dosen Unikarta bidang kebudayaan, Pulau Kumala dipercaya muncul bersamaan dengan peristiwa gaib hadirnya Putri Karang Melanu atau Putri Kumala.
“Sang putri konon muncul dari dasar Sungai Mahakam dengan menaiki makhluk mitologi Lembuswana serta dikawal oleh sepasang Naga Erau,” jelas Awang Rifani. Visualisasi dari makhluk-makhluk legenda inilah yang kini diwujudkan dalam bentuk patung-patung ikonis di area pulau untuk menyambut para wisatawan.
Titik balik sejarah komersial Pulau Kumala terjadi pada tahun 2000 di bawah kepemimpinan Bupati Kutai Kartanegara saat itu, Syaukani Hasan Rais. Pemerintah daerah kala itu menebang semak belukar dan merelokasi habitat bekantan ke pulau terdekat demi menyulap kawasan mati tersebut menjadi destinasi wisata megah.
Pulau Kumala kemudian resmi dibuka untuk umum pada tahun 2002, bertepatan dengan momen pelaksanaan Festival Erau.
Seiring berjalannya waktu, perjalanan objek wisata ini sempat mengalami pasang surut yang dramatis. Pulau ini pernah melewati masa-masa terbengkalai akibat dinamika politik daerah.
Berbagai wahana hiburan modern sempat mati suri. Hingga akhirnya, angin segar berembus kembali pada tahun 2016 saat pemerintah membangun Jembatan Repo-Repo. Jembatan pedestrian khusus pejalan kaki ini berhasil memangkas jarak dan mengembalikan minat masyarakat untuk berkunjung tanpa harus selalu bergantung pada perahu penyeberangan.
Kini, daya tarik sejarah dan keunikan Pulau Kumala sebagai “hutan di tengah kota” menjadikannya salah satu aset dengan nilai jual pariwisata yang sangat tinggi. Sadli selaku Kabid Pengembangan Destinasi dan Usaha Dinas Pariwisata (Dispar) Kukar menegaskan bahwa langkah optimalisasi terus didorong oleh jajaran Pemkab Kutai Kartanegara guna memperkuat konsep one stop entertainment.
“Revitalisasi ini diarahkan agar Pulau Kumala menjadi destinasi wisata terpadu yang modern tanpa menghilangkan akar budayanya,” ujar Sadli. Langkah strategis ini diyakini tidak hanya akan mempercantik wajah Kota Tenggarong saja.
Program ini juga mampu menggerakkan roda ekonomi kreatif serta membuka lapangan kerja baru bagi pelaku UMKM di sekitar wilayah pesisir Sungai Mahakam.
Melalui kolaborasi pelestarian budaya, inovasi destinasi, dan sorotan media nasional seperti Secret Story, Pulau Kumala kini bersiap melangkah lebih jauh sebagai ikon wisata masa depan Kalimantan Timur yang sarat akan nilai sejarah. Red

Bagikan

Related Posts