Samarinda, Solidaritas – Persaingan mencari kerja di Kota Samarinda kini tidak lagi sekadar adu gengsi selembar ijazah. Di tengah derasnya arus digitalisasi, kompetensi nyata dan keterampilan praktis (hard skills) kini menjadi penentu utama apakah seorang lulusan baru (fresh graduate) mampu bertahan atau justru tersisih di dunia industri.
Hal ini menjadi perhatian serius Ketua DPRD Samarinda, Helmi Abdullah. Menurutnya, menyelaraskan keterampilan teknis anak muda dengan kebutuhan industri adalah langkah paling strategis. Strategi ini bukan hanya untuk mendongkrak daya saing tenaga kerja lokal, tetapi juga menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi daerah.
“Generasi muda wajib menguasai hard skills praktis dan teknologi digital guna menghadapi lanskap dunia kerja yang berubah total,” ujar Helmi saat ditemui di Samarinda, Sabtu lalu.
Tantangan di meja kerja memang nyata. Berdasarkan data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS), angka pengangguran di Samarinda pada tahun 2025 berada di kisaran 25 ribu orang, dengan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) menyentuh 5,31 persen.
Meski angka ini sejatinya menurun 0,40 persen dibanding tahun 2024 yang sempat berada di level 5,75 persen, jumlah riilnya dinilai masih sangat besar.
Masalahnya, setiap tahun ribuan lulusan baru dari tingkat SMA/SMK hingga perguruan tinggi (S1 dan S2) terus membanjiri pasar kerja. Sementara itu, ekspansi lapangan kerja baru belum mampu mengimbangi ledakan jumlah pencari kerja tersebut.
Politikus Partai Gerindra ini pun secara tegas mengingatkan para lulusan baru untuk segera mengubah pola pikir (mindset). Mengandalkan gelar akademik tanpa keahlian spesifik adalah cara lama yang sudah tidak relevan.
“Masuk ke dunia usaha saat ini tidak semudah beberapa tahun lalu. Perusahaan kini menyaring kompetensi nyata, bukan sekadar latar belakang pendidikan formal,” tegas Helmi.
Fenomena ketimpangan ini tidak hanya menjadi rapor merah bagi para pencari kerja, tetapi juga menjadi pekerjaan rumah (PR) besar yang lintas sektor.
Helmi mendesak adanya sinergi yang kuat antara pemerintah daerah, pelaku usaha, dan lembaga pendidikan. Kolaborasi ini penting agar kurikulum yang diajarkan di bangku sekolah atau perkuliahan bisa benar-benar presisi dengan kebutuhan industri global maupun regional.
Apalagi, tantangan ini membayang di seluruh sudut wilayah. Data BPS per Februari 2026 menunjukkan TPT di tingkat Provinsi Kalimantan Timur masih berada di angka 5,27 persen. Melalui penguatan SDM lokal yang adaptif terhadap teknologi, diharapkan anak muda Samarinda tidak hanya menjadi penonton, melainkan menjadi pemain utama di rumah sendiri. Adv









