Berau, Solidaritas – Bagi masyarakat Kampung Teluk Sumbang, Kecamatan Biduk-Biduk, listrik bukan sekadar pemutar sakelar penepis gelap. Listrik adalah napas ekonomi, denyut nadi produktivitas, dan lentera harapan bagi para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di beranda pesisir Kabupaten Berau ini.
Namun, sudah hampir empat bulan terakhir, malam-malam di Teluk Sumbang mendadak senyap, menyisakan gulita yang mencekam. Padamnya aliran listrik akibat kerusakan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Off-Grid di kampung tersebut tidak hanya mematikan lampu-lampu di rumah warga.
Ia juga perlahan mematikan asa dan memperlambat roda perekonomian warga yang kian terjepit di tengah himpitan tekanan ekonomi.
Salah satu potret nyata dari ketimpangan ini dirasakan langsung oleh Ridwan, seorang pengrajin kayu yang tinggal di RT 1 Kampung Teluk Sumbang. Selama tiga tahun terakhir, deburan serbuk kayu dan deru mesin pasah di bengkel kecilnya adalah penopang utama hidup bagi anak dan istrinya. Dari lembaran papan, Ridwan merajut mimpi dan menyambung hidup.
Dahulu, saat PLTS mandiri masih berfungsi normal, kehadiran energi hijau itu bak berkah yang meringankan. Ridwan hanya perlu menyisihkan uang sekitar Rp 100 ribu per bulan untuk biaya konsumsi listrik usahanya. Angka yang sangat bersahabat bagi kantong pengrajin kecil di desa terpencil.
Namun kini, kenyataan berbalik arah secara tragis. Sejak listrik padam total empat bulan lalu, Ridwan terpaksa beralih menggunakan genset berbahan bakar minyak (BBM) agar usahanya tidak gulung tikar. Konsekuensinya sangat mahal.
“Sekarang saya harus keluar uang Rp 300 ribu per minggu. Kalau dihitung-hitung, bisa sampai Rp 1,2 juta bahkan menyentuh Rp 3 juta per bulan hanya untuk beli BBM genset,” ungkap Ridwan dengan nada getir.
Bagi Ridwan, lonjakan biaya operasional hingga puluhan kali lipat ini adalah sebuah pukulan telak. Di satu sisi, daya beli masyarakat sedang melemah, membuat pesanan sepi. Di sisi lain, ia tidak bisa menaikkan harga jual mebelnya karena takut kehilangan pelanggan yang tersisa.
Ridwan kini terjebak di tengah dilema: keuntungan usahanya habis tak bersisa demi membeli liter demi liter BBM, namun produksi harus tetap jalan semata-mata agar dapur di rumahnya tetap mengepul.
Kondisi yang menimpa Teluk Sumbang adalah sebuah penyimpangan sosial yang ironis. Di saat masyarakat perkotaan menikmati listrik murah bersubsidi, warga di wilayah terpencil justru harus menanggung beban biaya energi yang mencekik leher akibat lambatnya penanganan infrastruktur publik.
Masyarakat Teluk Sumbang kini hanya bisa berharap, kegelapan ini segera berakhir. Mereka tidak hanya merindukan terangnya lampu di kala malam, tetapi juga kembalinya produktivitas dan asa mereka yang sempat padam selama empat bulan ini.
Pemerintah daerah dan pihak terkait dituntut bergerak cepat, sebab bagi warga seperti Pak Ridwan, setiap hari tanpa listrik adalah satu langkah lebih dekat menuju keputusasaan. Arian









