News

KRISIS EKOLOGIS: Orangutan Terdesak Masuk Permukiman, Warga Desa Tembangan Lembak Kehilangan Sumber Penghidupan

Bagikan

Berau, Solidaritas – Krisis ruang hidup akibat alih fungsi lahan kini mengancam kelangsungan hidup orangutan Kalimantan dan masyarakat lokal di Desa Tembangan Lembak Kecamatan Bengalon, Kabupaten Kutai Timur, Provinsi Kalimantan Timur.

Investigasi langsung di lapangan menunjukkan bahwa pembukaan hutan skala besar untuk industri konvensional telah merusak rantai makanan alami, memaksa satwa dilindungi tersebut masuk ke wilayah domestik warga demi bertahan hidup.

Sebuah pemandangan memprihatinkan kini menjadi rutinitas harian warga desa. Sesosok orangutan Kalimantan berukuran besar sering kali terlihat bergerak lambat, berpindah dari satu dahan sisa di batas hutan menuju halaman belakang rumah-rumah panggung kayu milik penduduk.

Kehadiran primata besar ini bukan lagi menjadi tontonan eksotis yang ramah. Bagi ekosistem lokal, ini adalah alarm darurat yang menandakan bahwa habitat asli mereka sedang mengalami kerusakan parah atau “sekarat”.

Selama beberapa dekade terakhir, bentang alam Desa Tembangan Lembak merupakan rumah yang ideal bagi primata endemik ini. Rimbunnya kanopi hutan hujan tropis bertindak sebagai pelindung sekaligus penyedia sumber pakan yang melimpah.

Namun, eksploitasi sumber daya alam secara masif dan ekspansi perkebunan monokultur telah memutus jalur jelajah yang diwariskan turun-temurun.

Pohon-pohon tempat bernaung ditumbangkan, memaksa satwa arboreal ini turun ke tanah. Untuk menyambung hidup, orangutan terpaksa beradaptasi secara ekstrem dengan mendekati wilayah manusia untuk mencari sisa-sisa makanan.

Di sisi lain, nasib masyarakat Desa Tembangan Lembak setali tiga uang dengan kondisi para orangutan. Meskipun desa mereka dikelilingi oleh area konsesi perusahaan yang mengeruk kekayaan alam bernilai tinggi, warga lokal justru hidup dalam keterbatasan.

Berdasarkan pantauan kami, desa ini masih belum tersentuh oleh fasilitas dasar yang layak, belum mendapatkan pasokan listrik dari PLN.

Ekonomi masyarakat sangat bergantung pada sektor agraria, pertanian, dan kebun tradisional. Ketika bentang alam diintervensi oleh aktivitas industri, perubahan iklim mikro lokal langsung memukul sektor perekonomian dan ketahanan pangan masyarakat bawah.

Dampak kerusakan ekosistem ini ditekankan langsung oleh Rahmad Purnomo warga desa Tembangan Lembak kepada Solidaritas.

Pria berambut panjang ini mengatakan bahwa dalam empat tahun terakhir, siklus alami hutan telah patah total.

“Dulu, kami selalu menanti musim buah setiap tahunnya,” ujarnya dengan tatapan kosong.

Sebelum masa krisis ini, lanjut Rahmad, Desa Tembangan Lembak melimpah dengan buah-buahan endemik Kalimantan seperti durian hutan dan lai yang tumbuh subur secara berkala. Namun, dalam empat tahun ke belakang, pohon-pohon buah baik di kebun warga maupun sisa hutan tidak lagi berbuah.

Keberadaan buah endemik tersebut kini tergolong langka dan terancam punah.

“Gagal panen buah di hutan secara linier memicu kelaparan pada populasi orangutan. Karena tidak ada makanan di dalam hutan, kebun karet dan tanaman pekarangan warga menjadi sasaran penjarahan satwa yang kelaparan,” jelas Rahmad.

Kondisi ini mengaburkan batas wilayah aman antara manusia dan hewan liar, memicu ketakutan akan keselamatan hasil kebun sekaligus keselamatan fisik orangutan itu sendiri.

Menanggapi krisis yang kian memuncak, masyarakat Desa Tembangan Lembak lanjut Rahmad,  mendesak pihak-pihak otoritas terkait untuk segera mengambil tindakan konkret di lapangan,

“Pemerintah dan Kementerian Terkait, harus segera memetakan area konflik dan memperketat pengawasan regulasi lingkungan terhadap izin konsesi, begitu juga dengan perusahaan pemilik konsesi harus bertanggung jawab atas pemulihan koridor hijau (restorasi habitat) di wilayah kerja mereka,” tutup Rahmad.

Lembaga Konservasim, Melakukan langkah mitigasi darurat berupa evakuasi dan relokasi orangutan yang terjebak di pemukiman ke wilayah konservasi yang aman.

Tanpa adanya langkah penyelamatan habitat yang tersisa secara cepat, kepunahan maskot satwa Kalimantan ini hanya tinggal menunggu waktu, menyisakan kerusakan lingkungan jangka panjang bagi generasi mendatang. Arian


Bagikan

Related Posts