Kutai Kartanegara, Solidaritas – Jarum jam menunjuk sekitar pukul 17.00 WITA ketika roda-roda pesawat yang membawa Rita Widyasari menyentuh landasan pacu Bandara APT Pranoto, Samarinda, Jumat (12/6/2026).
Setelah hampir satu dekade berselimut rindu terpisah dari tanah kelahiran, mantan Bupati Kutai Kartanegara (Kukar) itu akhirnya kembali pulang.
Mengenakan Fortuner hitam yang memimpin iring-iringan mini car di belakangnya, perempuan yang akrab disapa “Bunda Rita” ini langsung bertolak menuju Tenggarong. Perjalanan sore itu bukan sekadar perpindahan tempat, melainkan sebuah kilas balik emosional yang panjang menuju rumah.
Sinyal kerinduan masyarakat langsung terasa begitu rombongan melintasi Jembatan Mahakam Tenggarong. Di ujung jembatan yang menjadi simbol kota, ratusan pengendara roda dua telah berbaris rapi.
Mereka bukan penjemput biasa, melainkan warga yang sengaja datang untuk menyambut kembali mantan orang nomor satu di Kukar tersebut setelah 9 tahun lamanya.
Riuh suara mesin motor dan lambaian tangan warga seketika memecah keheningan sore. Di tengah antusiasme yang membuncah, Bunda Rita menyempatkan diri menepi. Dialog singkat terjadi. Tidak ada sekat, hanya ada senyum hangat dan obrolan melepas rindu yang sempat tertunda hampir sedekade.
Setelah interaksi yang emosional itu, iring-iringan kendaraan masyarakat langsung mengawal jalannya konvoi. Mereka memadati sejumlah ruas jalan utama Kota Raja, mengantarkan sang mantan bupati menuju titik awal sejarah hidupnya: Jalan Mawar.
Bagi Rita, Jalan Mawar bukan sekadar deretan aspal dan bangunan rumah. Tempat ini adalah jangkar memorinya. Di sanalah rumah masa kecilnya berdiri, tempat ia dilahirkan, dibesarkan, dan merajut mimpi-mimpi masa mudanya.
Melihat kembali sudut-sudut kota yang telah lama ditinggalkan, Rita tidak mampu menyembunyikan rasa harunya. Matanya berkaca-kaca menatap tanah kelahiran yang kini kembali diinjaknya.
“Nyaris sembilan tahun saya tidak kembali ke tanah kelahiran saya. Saya lahir dan dibesarkan di sini, Jalan Mawar,” ucap Rita dengan suara bergetar di hadapan warga yang mengerumuninya.
Sore itu, kepulangan Bunda Rita melampaui sebuah kunjungan biasa. Ini adalah momen rekonsiliasi batin dengan tanah leluhur. Di sela-sela pelukan hangat warga dan rintik kerinduan yang tumpah, Rita menggantungkan sebuah doa dan harapan pamungkas untuk masa depannya.
“Saya ingin hidup dan mati pun di sini. Amin,” pungkasnya lirih, menutup lembaran petang yang penuh haru di Kota Tenggarong. Red









