Samarinda, Solidaritas – Kebijakan pemangkasan kuota produksi dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) kini menjadi buah bibir yang memicu kecemasan baru di sektor pertambangan batu bara. Di balik deru mesin dan kepulan debu emas hitam Kalimantan Timur, ada riak kekhawatiran dari ribuan pekerja yang kini dibayangi oleh potensi Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).
Kota Samarinda, yang selama puluhan tahun menjadi jantung penggerak industri ekstraktif ini, mulai pasang kuda-kuda. Sektor yang dahulu menjadi tumpuan utama penghidupan warga, kini perlahan harus menghadapi realitas perubahan zaman dan regulasi.
Kondisi ini pun memantik perhatian serius dari kalangan legislatif Kota Tepian. Wakil Ketua Komisi IV DPRD Samarinda, Sri Puji Astuti, mengingatkan bahwa lanskap pertambangan di ibu kota Kalimantan Timur ini sudah jauh berubah. Samarinda bukan lagi kota tambang yang sama seperti beberapa tahun lalu.
Bahkan, ia membeberkan fakta bahwa per tahun 2026 ini, riwayat izin aktivitas pertambangan batu bara di wilayah administrasi Kota Samarinda secara resmi telah habis.
“Kalau tambang Samarinda mulai tahun 2026 ini kan sudah tidak ada izin tambang ya, tapi memang mereka domisilinya Samarinda tapi bekerjanya di Kutai Timur dan Kutai Kartanegara,” ujar Puji saat ditemui pada Jumat (29/5/2026).
Artinya, meski para pekerja masih memadati sudut-sudut kota ini sebagai tempat tinggal, keringat mereka sebenarnya sudah mengucur di perut bumi kabupaten tetangga. Ketergantungan yang lintas wilayah ini membuat dampak pemangkasan kuota RKAB tetap akan terasa nyata di dapur-dapur keluarga warga Samarinda.
Namun, alih-alih larut dalam kecemasan, Puji memandang situasi sulit ini dari kacamata yang berbeda. Menurutnya, momentum transisi ini harus dijadikan alarm pengingat bagi para pekerja untuk segera menyusun strategi bertahan hidup yang baru.
Masa kejayaan batu bara yang mulai menyusut seharusnya menjadi modal awal untuk mempersiapkan masa depan yang lebih berkelanjutan.
Langkah mitigasi mandiri, seperti mulai menyisihkan penghasilan untuk menabung dan merancang rencana usaha alternatif, dinilai menjadi kunci utama agar tidak goyah jika badai PHK itu benar-benar datang mengetuk pintu.
“Bisa dia beralih ke sektor mana, bisa dia berdagang, bisa dia apa-apa gitu,” tuturnya optimis.
Pesan ini menjadi refleksi bersama bahwa masa depan Samarinda tidak lagi bisa digantungkan pada kerukan batuan hitam. Di tengah ancaman pengurangan tenaga kerja, diversifikasi keterampilan dan keberanian untuk melirik sektor ekonomi kreatif atau perdagangan kini menjadi jalan keluar yang harus segera ditempuh demi menjaga asap dapur tetap mengepul. Adv









