Kota Samarinda

Parkir Sembarangan, Ratusan Kendaraan Ditindak di Jalan Gajah Mada

Bagikan

Samarinda, Solidaritas – Gemerlap lampu dan keriuhan acara hiburan “Basa-Basi” di kawasan Teras Samarinda, Jalan Gajah Mada, Jumat (29/5/2026) malam, menyisakan cerita klasik yang terus berulang. Di balik antusiasme warga menikmati ikon baru Kota Tepian ini, pemandangan trotoar dan bahu jalan yang berubah menjadi “lahan parkir dadakan” kembali menjadi sorotan tajam.
Mentalitas instan dan enggan berjalan kaki tampaknya masih menjangkiti sebagian pengunjung. Alih-alih memanfaatkan kantong parkir resmi yang telah disediakan di area Pasar Pagi atau Teluk Lerong Space (TLS) di Jalan RE Martadinata, banyak pengendara memilih jalan pintas.
Mereka nekat memarkirkan kendaraannya di bahu jalan, depan minimarket, hingga halaman gedung di sepanjang Jalan Gajah Mada hingga Jalan Merapi demi bisa sedekat mungkin dengan lokasi acara.
Saat riuh musik dan canda tawa memenuhi area Teras Samarinda, puluhan petugas Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Samarinda bersama Satlantas Polresta Samarinda justru harus sibuk menyisir jalanan. Hasilnya, hampir 100 kendaraan—didominasi oleh roda dua—kedapatan melanggar aturan.
Saat terjaring razia, koor “alasan klasik” pun bergema dari para pelanggar. Mulai dari dalih “hanya parkir sebentar”, “tidak tahu ada larangan”, hingga keluhan bahwa “kantong parkir resmi terlalu jauh”.
Namun, petugas malam tadi memilih berdiri tegak di atas aturan. Sanksi tegas langsung diberikan di tempat. Bunyi mendesis dari ban yang dikempeskan dan tempelan stiker pelanggaran berwarna mencolok menjadi “hadiah” bagi mereka yang bebal.
“Kami lakukan penempelan stiker dan beberapa kendaraan juga dilakukan pengempesan ban sebagai bentuk penertiban. Ada hampir 100 kendaraan dan semuanya kami berikan tindakan,” tegas Kepala Bidang Lalu Lintas Jalan Dishub Samarinda, Boy Leonardo Sianipar, saat ditemui di lokasi.
Boy menjelaskan bahwa pihak penyelenggara acara sebenarnya telah berkoordinasi sejak awal dengan Dishub terkait pengaturan lalu lintas dan penyediaan kantong parkir resmi. Sayangnya, edukasi tersebut mental di hadapan ego para pengendara yang malas berjalan kaki.
Kondisi ini kian diperparah oleh kemunculan oknum juru parkir (jukir) liar yang memanfaatkan situasi demi meraup keuntungan pribadi. Mereka dengan santai mengarahkan pengunjung untuk melanggar hukum.
Terkait fenomena jukir liar ini, Boy Leonardo memberikan pandangan menohok. Menurutnya, jukir liar tidak akan eksis jika masyarakat memiliki kesadaran hukum yang tinggi.
“Jukir liar muncul karena ada masyarakat yang mau parkir sembarangan. Kalau masyarakat disiplin dan menolak diarahkan ke tempat terlarang, maka praktik parkir liar otomatis akan berkurang,” pungkas Boy.
Meski malam tadi arus lalu lintas dinilai sedikit lebih tertata dibandingkan event-event besar sebelumnya, peristiwa ini menjadi tamparan halus bagi warga Samarinda. Estetika dan kenyamanan Teras Samarinda sebagai ruang publik tidak akan pernah terwujud seutuhnya jika masyarakatnya masih memelihara mentalitas “asal dekat” dan abai pada ketertiban kota. Red

Bagikan

Related Posts