Opini

Menembus “Tol Air” Mahakam Menuju Jantung Kutai Barat

Bagikan

​Oleh: Rusdiansyah Aras

​Perjalanan menuju Sendawar selalu punya cerita tersendiri. Namun, kali ini ada nuansa yang berbeda sejak kaki melangkah di titik awal. Pagi itu, Dermaga Mahakam Ulu di Samarinda menjadi saksi keberangkatan kami. Wajah dermaga ini telah berubah total—rapi, tertata, dan modern.

Sentuhan tangan dingin Walikota Andi Harun benar-benar menyulap kawasan ini hingga mengingatkan saya pada pesona Sungai Chao Phraya di Bangkok. Samarinda tengah berbenah, dan gerbang airnya kini tampil dengan martabat baru.

​Tepat pukul 09.10 WITA, hanya selisih 10 menit dari jadwal seharusnya, mesin speed boat mulai menderu. Di balik kemudi, ada Arman, seorang motoris handal warga Timbau, Kukar, yang siap membelah arus sungai.

​Rombongan Penjemput Amanah
Di dalam kabin, saya tak sendiri. Ada tujuh rekan dari KONI Kaltim yang menyertai perjalanan ini dengan semangat yang sama:
​Akhmad Albert (Sekum KONI Kaltim)
​Firmanuddin Djakfar (Ketua IV)
​HM Fahri Daeng Betta (Kabid Or)
​Zulkarnaen (Kabid Humas)
​Andi Iriyadi (Anggota Bid Or)
​Dua staf operasional, Achmad Daud dan Ali Husni.

Bersama 17 penumpang lainnya, kami duduk dalam satu ritme, membelah “tol air” yang menjadi urat nadi Kalimantan Timur.

Anomali di Jalur Batubara
​Geliat lalu lintas air terasa padat di etape awal. Pemandangan ponton-ponton batubara yang antre di bawah Jembatan Mahakam Kembar hingga Jembatan Mahulu masih menjadi ciri khas. Namun, sebuah pemandangan menarik tertangkap mata setelah kami melewati Jembatan Tenggarong.

Sungai tampak lebih lengang. Tak banyak hilir mudik emas hitam dari hulu menuju hilir. Kontras sekali dengan suasana sembilan bulan lalu saat saya bertandang ke Kutai Barat. Firasat saya sebagai jurnalis media membisikkan satu hal: ini adalah dampak nyata dari penurunan harga acuan batubara yang merosot hingga 40 persen.

Hanya riak-riak gelombang dari kapal kayu pengangkut sembako dan tabung LPG yang sesekali mengguncang speed boat kami, menandakan kehidupan masyarakat di pedalaman tetap harus berputar meski komoditas utama sedang melandai.

Singgah di Kota Bangun hingga Labuhan Melak
​Waktu menunjukkan pukul 12.00 WITA saat kami melintasi kolong Jembatan Kota Bangun. Sesuai tradisi perjalanan sungai, kami menepi untuk makan siang. Waktu 60 menit yang diberikan motoris kami manfaatkan seefisien mungkin untuk mengisi tenaga dan meluruskan kaki.

Tepat pukul 13.00 WITA, mesin kembali menderu. Perjalanan berlanjut hingga akhirnya pada pukul 16.00 WITA, dermaga Pelabuhan Melak menyambut kami dengan hangat. Di sana, kawan-kawan dari pengurus KONI Kubar sudah menunggu, menjemput rombongan untuk menuju Hotel Sido Dady di Barong Tongkok.

Misi di Barong Tongkok
​Kedatangan kami ke ibu kota Kutai Barat ini membawa misi organisasi yang krusial. Hari ini, kami hadir untuk mengawal Musorkablub KONI Kubar. Sebuah langkah penting untuk memilih nakhoda baru pasca mundurnya Agus Herawan.

Perjalanan sungai sejauh ratusan kilometer ini bukan sekadar perpindahan tempat, melainkan bentuk tanggung jawab moral untuk memastikan pembinaan olahraga di Bumi Taa Daat tetap berjalan tegak lurus. Dari tepi Mahakam, kami memulai langkah untuk masa depan prestasi olahraga yang lebih baik.(rd)


Bagikan

Related Posts