Kab. Kutai Kartanegara

Luka di Balik Lumpur: Ibu Salbiah dan Sisa Harapan yang Terendam Air Bah

Bagikan

Kutai Kartanegara, Solidaritas – Bagi Ibu Salbiah, hujan bukan lagi berkah yang dinanti, melainkan hantu yang menakutkan. Bencana air bah yang menerjang berulang kali sejak Desember 2025 hingga Februari 2026 telah mengubah ladang hortikultura miliknya menjadi hamparan lumpur tak bernyawa.
Di atas lahan seluas satu hektare itu, sembilan komoditas pangan yang seharusnya menjadi penyambung hidup, kini terkubur bersama mimpi-mimpi yang ia tanam.
Bencana ini bukan lagi sekadar musibah alam yang lewat begitu saja. Bagi kelompok wanita tani di sana, ini adalah cermin retak dari kegagalan sistem dalam melindungi mereka yang paling rentan.
Selama lima bulan terakhir, Ibu Salbiah praktis kehilangan pijakan ekonomi. Bukan hanya tanaman yang membusuk, tanah yang selama ini ia rawat seolah ikut “mati” kehilangan kesuburan akibat rendaman air yang tak kunjung surut. Pemulihan lahan pasca-bencana menuntut biaya besar dan waktu yang panjang, sesuatu yang hampir mustahil dimiliki oleh seorang petani kecil di tengah ketidakpastian.
Namun, di tengah kondisi kritis tersebut, bantuan dan solusi nyata dari pemangku kebijakan terasa begitu samar. Ibu Salbiah dan rekan-rekannya seolah hanya menjadi barisan angka dalam laporan bencana, tanpa ada sentuhan kemanusiaan yang benar-benar memulihkan hidup mereka dari titik nol.

“Apakah harus menunggu semuanya hancur total baru perhatian itu datang?” Pertanyaan itu menggantung pedih di udara, di tengah sunyinya lahan yang kini tak lagi hijau. Tidak adanya sistem perlindungan gagal panen atau jaminan keamanan lahan membuat para petani ini seolah dibiarkan bertarung sendirian melawan alam yang kian tak bersahabat.
Meski demikian, Ibu Salbiah menolak menyerah pada keadaan. Dengan sisa tenaga yang ada, ia kembali mengayunkan cangkulnya ke tanah yang masih lembap. Setiap bongkahan tanah yang ia balik adalah simbol perlawanan—sebuah pernyataan bahwa ia menolak untuk mati bersama bencana yang sengaja dibiarkan berulang.
Lahan itu adalah denyut ekonomi warga. Jika ia mati, maka harapan hidup layak bagi banyak keluarga di sekitarnya pun akan ikut terhenti. Kini, perjuangan Ibu Salbiah menjadi pengingat bagi kita semua: jika pengabaian ini terus berlanjut, yang kita hadapi bukan lagi sekadar bencana ekologi, melainkan bencana kemanusiaan yang terjadi di depan mata. Arian

Bagikan

Related Posts