Kab. Kutai Kartanegara

Balada Arang di Tengah Jeritan Ekonomi: Napas Sesak Perajin Laban dari Desa Senoni

Bagikan

Kutai Kartanegara, Solidaritas – Asap putih membumbung tipis dari sebuah tungku sederhana di sudut Desa Senoni. Di baliknya, wajah-wajah legam berselimut debu kayu tampak sibuk menyusun potongan batang laban.
Bagi sebagian orang, asap itu mungkin hanya polusi, namun bagi warga di sini, itulah aroma napas dapur yang harus tetap mengepul di tengah himpitan ekonomi yang kian mencekik.
Kisah di Desa Senoni adalah potret getir tentang perjuangan rakyat kecil yang terjepit di antara dua raksasa: kenaikan harga pangan yang tak terkendali dan kepungan industri kehutanan.

Ironis membalut desa ini. Meski dikelilingi oleh kawasan Hak Pengusahaan Hutan (HPH) yang hanya berjarak sekitar 600 meter dari pemukiman, warga justru merasa kian terasing di tanah sendiri. Lahan pertanian yang dulu menjadi tumpuan perlahan menyempit, berganti tanaman industri yang hasilnya tak pernah mampir ke meja makan mereka.
“Kami mencoba bertahan dengan apa yang tersisa,” bisik salah satu warga di sela aktivitasnya. Kayu laban menjadi pilihan terakhir, meski proses mengolahnya menjadi arang bukanlah perkara mudah.

EGAM DAN TANGGUH: Wajah legam berselimut debu menjadi pemandangan sehari-hari para pembuat arang di Desa Senoni. Meski hanya dihargai sekitar Rp100 ribu per hari, mereka tetap setia merawat bara di dalam tanah sebagai satu-satunya tumpuan ekonomi yang tersisa. FOTO: ARIAN
Menjadi perajin arang adalah kerja fisik yang menguras raga. Hari pertama dihabiskan dengan berpeluh mencari dan menyiapkan kayu. Hari-hari berikutnya adalah pertaruhan melawan cuaca dan tungku seadanya. Selama tujuh hari penuh, mereka harus menjaga pembakaran dengan teknik tradisional yang rentan gagal.
Setelah seminggu berjibaku dengan panas dan asap, arang-arang itu dikemas ke dalam karung. Namun, perjuangan belum usai, karena pembeli tak selalu datang setiap hari.
Yang paling menyayat hati adalah angka di balik jerih payah tersebut. Dari kerja kolektif empat orang selama berhari-hari, mereka rata-rata hanya mampu membawa pulang sekitar Rp100 ribu per hari per orang. Di tengah harga beras dan minyak goreng yang terus melambung, angka itu seolah hanya lewat di telapak tangan untuk sekadar menyambung nyawa esok hari.
Kondisi ini memicu pertanyaan besar: sejauh mana mata dan telinga para pemangku kebijakan menjangkau pelosok Senoni? Saat meja-meja birokrat dipenuhi diskusi tentang pertumbuhan ekonomi, warga Senoni masih harus bergulat dengan debu hitam demi sesuap nasi.
Di Desa Senoni, asap arang bukan sekadar tanda produksi. Ia adalah simbol perjuangan hidup yang tak kunjung padam di tengah ketidakpastian. Ia adalah jeritan tanpa suara dari rakyat yang merindukan keadilan ruang hidup dan kesejahteraan yang lebih dari sekadar janji.
Selama tungku-tungku sederhana itu masih menyala, selama itu pula balada arang ini akan terus berkumandang—sebuah pengingat bahwa di balik megahnya angka statistik, ada keringat dan air mata yang belum terbayar tuntas. Red

Bagikan

Related Posts