Samarinda, Solidaritas – Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) berkomitmen penuh mendukung serta membangun kota cerdas masa depan tanpa mengesampingkan identitas dan akar budaya lokal. Sebagai wujud nyata dari komitmen tersebut, OIKN berencana untuk memboyong festival budaya Erau Adat Kutai ke kawasan IKN pada tahun 2027 mendatang.
Rencana besar ini disampaikan langsung oleh Kepala Otorita IKN, Basuki Hadimuljono. Beliau menyebutkan bahwa gagasan ini merupakan permintaan langsung dari Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Sultan Aji Muhammad Arifin.
“Setelah kami berdiskusi, Sultan meminta agar Erau bisa digelar di IKN tahun-tahun depan dan saya katakan silakan saja. Kami sangat menyambut baik,” ujar Basuki.
Meski konsep ini disambut hangat, OIKN belum merinci bentuk maupun waktu pelaksanaan pastinya karena lini masa dan teknis acara masih perlu dimatangkan bersama pihak terkait.
Bagi masyarakat Kutai, filosofi Erau memiliki makna yang sangat mendalam sebagai ruang sakral yang menyatukan pemimpin, rakyat, dan lingkungan. Nilai leluhur inilah yang menjadi salah satu inspirasi besar dalam pembangunan IKN. Kehadiran Nusantara sebagai kota yang cerdas dan futuristik justru diharapkan berjalan beriringan dengan kebudayaan lokal, bukan malah menenggelamkannya.
Wacana memboyong Erau ke IKN dinilai sangat memungkinkan, mengingat kawasan ibu kota baru memiliki keterkaitan sejarah yang kuat dengan wilayah Kesultanan Kutai Kartanegara.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kutai Kartanegara (Disdikbud Kukar) sekaligus Juru Bicara Kesultanan, Heriansyah, menjelaskan bahwa secara historis, wilayah IKN memang bagian dari wilayah Kesultanan Kutai sebelum adanya pemekaran wilayah administratif ke Penajam Paser Utara (PPU).
“IKN itu secara wilayah administratifnya dulu adalah wilayah administrasi Kukar, makanya kalau berbicara Erau sangat memungkinkan dilaksanakan di sana,” kata Heriansyah pada Senin (28/9/2026).
Meski memberikan lampu hijau, Heriansyah menggarisbawahi bahwa tata cara pelaksanaan Erau di IKN nantinya akan berbeda dengan prosesi sakral yang rutin digelar di Kedaton Sultan, Tenggarong.
“Kalau terealisasi, festival di IKN ini dapat menggunakan format seperti konsep Erau Plus atau Erau Pelas Tanah. Rangkaiannya dirancang khusus sesuai konteks kawasan IKN, tetapi tetap menjaga esensi adat Kutai,” tutur Heri.
Pelaksanaan Erau di luar “Kota Raja” (Tenggarong) sebenarnya bukan hal baru. Sebelumnya, tradisi ini juga sukses berkembang di wilayah lain yang memiliki keterkaitan sejarah, seperti Erau Adat Benua Tuha di Muara Kaman (Kabupaten Kukar) dan Erau Pelas Benua Guntung di Kota Bontang.
Hadirnya Erau di Nusantara pada 2027 nanti diharapkan tidak hanya menjadi sarana untuk mengenalkan tradisi Kutai kepada masyarakat dunia dan generasi muda. Lebih dari itu, agenda ini akan menjadi ruang baru bagi kebudayaan lokal untuk bersanding harmonis di pusat pemerintahan masa depan Indonesia. Red








