Samarinda, Solidaritas – Guratan cemas sempat membayang di wajah warga Kota Samarinda dalam beberapa hari terakhir. Bukan karena pipa yang bocor, melainkan fenomena alam intrusi air laut yang menyusup ke Instalasi Pengolahan Air (IPA), membuat produksi air bersih terhambat dan keran-keran di rumah warga sempat mengering.
Namun, kecemasan itu perlahan terurai. Sejak Jumat (4/9/2026), deru mesin dari 15 armada truk tangki gabungan mulai memecah keheningan di beberapa sudut kota. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Samarinda bersama instansi terkait bergerak cepat menerobos terik untuk mendistribusikan pasokan air bersih langsung ke pemukiman warga yang terdampak.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Samarinda, Suwarso, menegaskan bahwa bantuan air bersih ini merupakan ikhtiar pemerintah untuk memastikan kebutuhan paling mendasar warga tetap terpenuhi. Namun, mengingat pasokan yang harus dibagi rata, ia meminta warga bijak dalam menggunakannya.
“Air yang kami distribusikan diperuntukkan bagi kebutuhan konsumsi, seperti minum dan memasak. Bukan untuk mandi, mencuci maupun kakus,” ujar Suwarso dengan nada penuh imbauan, Jumat (4/9/2026).
Suwarso juga meluruskan anggapan keliru yang sempat beredar di masyarakat. Kekosongan pasokan air kali ini murni karena faktor alam, bukan karena kerusakan teknis perpipaan. Fenomena intrusi air laut memaksa beberapa IPA menurunkan kapasitas produksinya demi menjaga kualitas air yang dihasilkan.
“Yang kami suplai adalah daerah yang IPA-nya terdampak intrusi air laut sehingga tidak bisa memproduksi air bersih, bukan karena gangguan ataupun perbaikan pipa,” jelasnya secara terperinci.
Aksi kemanusiaan di lapangan ini menjadi bukti nyata gotong royong lintas instansi. Tak berjalan sendiri, BPBD Samarinda disokong penuh oleh armada dari PDAM Tirta Kencana, Dinas Pemadam Kebakaran, BWS Kalimantan IV, Kementerian Pekerjaan Umum, hingga PMI Kaltim. Sinergi ini membuat seluruh permintaan air bersih dari warga sejauh ini masih mampu dipenuhi dengan baik.
Bagi warga yang wilayahnya masih membutuhkan pasokan, mekanisme pengajuan telah diatur dengan rapi. Pihak kelurahan dapat mendata warganya dan mengajukan permohonan melalui Call Center Pusdalops BPBD, untuk kemudian dikoordinasikan titik pengirimannya agar tepat sasaran.
Di akhir perbincangan, Suwarso menyelipkan sebuah pesan sederhana namun penting bagi seluruh warga Samarinda. Fenomena alam seperti ini menuntut kesiapsiagaan dari dalam rumah masing-masing.
“Begitu air PDAM kembali mengalir normal, masyarakat sebaiknya langsung menyiapkan penampungan sebagai cadangan,” pungkasnya menutup obrolan.
Di tengah situasi sulit ini, kehadiran truk-truk air bersih bukan sekadar mengalirkan cairan kehidupan ke dalam jeriken warga, tetapi juga mengalirkan rasa tenang bahwa mereka tidak sendirian menghadapi dampak kekeringan ini. Red









