Samarinda, Solidaritas – Riuh rendah suara drumband, lambaian tangan dari mobil hias, dan warna-warni pakaian adat biasanya menjadi pemandangan wajib yang menghidupkan sudut-sudut Kota Samarinda setiap bulan Agustus. Namun, perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia kali ini terasa berbeda seiring munculnya wacana peniadaan pawai pembangunan. Langkah ini pun langsung menuai perhatian.
Sorotan salah satunya datang dari Anggota Komisi III DPRD Kota Samarinda, Muhammad Andriansyah. Bagi pria yang akrab disapa Andri ini, pawai pembangunan bukan sekadar tontonan musiman, melainkan wadah penting untuk menjaga api nasionalisme dan kegembiraan merdeka di tengah masyarakat.
“Harusnya itu tetap dijalankan,” ujar Andri dengan nada menyayangkan, Senin (17/8/2026).
Meski mengaku belum menerima surat keputusan resmi dari pemerintah kota mengenai pembatalan tersebut, Andri menaruh harapan besar agar tradisi tahunan ini tidak ditiadakan. Ada denyut kehidupan kota yang menurutnya ikut dipertaruhkan jika jalanan Samarinda sepi dari iring-iringan pawai.
Lebih dari sekadar hiburan rakyat, Andri melihat pawai pembangunan dari kacamata yang lebih luas, yaitu sebagai roda penggerak ekonomi daerah dan penguat sektor pariwisata.
Kerumunan massa yang hadir untuk menonton pawai dinilai memiliki efek domino yang besar bagi para pelaku usaha, mulai dari pedagang kaki lima hingga sektor formal.
“Pawai semestinya menjadi bagian dari agenda yang mampu menarik kunjungan masyarakat sekaligus menggerakkan roda ekonomi daerah,” jelasnya.
Menurut Andri, perputaran uang dalam acara besar seperti ini mengalir langsung ke berbagai sektor strategis kota. Aktivitas yang mengundang keramaian massa otomatis akan mendongkrak tingkat okupansi hotel hingga pendapatan restoran, dua sektor yang selama ini menjadi penyumbang utama Pendapatan Asli Daerah (PAD) Samarinda.
Di akhir penyataannya, Andri berharap pemerintah daerah bisa menimbang kembali keputusan tersebut secara matang. Ia menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara efisiensi kota dan kebutuhan untuk merayakan kemerdekaan sekaligus menghidupkan ekonomi wong cilik.
“Ya sebaiknya tetap diadakan sih, jika memang kondisinya memungkinkan,” pungkasnya. Adv








