Samarinda, Solidaritas – Aplikasi peta digital di ponsel pintar memang kerap menjadi penyelamat di jalan. Namun bagi Kharisma dan keretnya, Candra, petunjuk arah dari layar ponsel justru membawa mereka ke sebuah momen menegangkan yang nyaris merenggut nyawa di atas ketinggian Kota Samarinda.
Senin (2/11/2026) malam, sebuah truk Fuso bermuatan kayu olahan tampak berdiri miring secara dramatis di atas Jembatan Layang (Flyover) Air Hitam, Jalan Juanda, Samarinda, Kalimantan Timur.
Badan truk besar bernomor polisi B 0523 BYX tersebut bersandar pasrah pada pagar pembatas jembatan. Di bawahnya, jurang menganga menuju jalan raya di bawah flyover siap mengancam jika saja pagar beton itu jebol.
Niat hati ingin mengantarkan muatan kayu dari kawasan Lempake menuju Surabaya, Jawa Timur, perjalanan mereka terhenti secara mengejutkan saat truk tengah menanjak di atas jembatan layang.
“Mau ke Jawa, Surabaya, bawa kayu. Enggak tahu pak, patah… kami ikutin map (peta digital),” ujar Candra, sang keret truk dengan wajah yang masih menyiratkan sisa ketegangan.
Tiba-tiba saja, suara dentuman nyaring memecah keheningan malam, disusul suara goresan besi yang memekakkan telinga di atas aspal. As roda belakang sebelah kiri truk rupanya patah, tak kuat menahan beban yang dibawa.
Akibatnya truk oleng ke kiri dan nyaris terjun bebas ke bawah jembatan layang. Beruntung, pagar pembatas jembatan masih cukup kokoh untuk menahan beban raksasa tersebut, menyelamatkan Kharisma dan Candra dari petaka yang lebih fatal.
Petugas Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Samarinda yang tiba di lokasi segera melakukan pemeriksaan. Hasilnya, truk Fuso tersebut dipastikan mengalami Over Dimension and Over Load (ODOL). Muatannya melanggar batas tonase maksimal flyover Juanda yang sebenarnya hanya diperbolehkan menampung beban maksimal 20 ton.
“Tidak boleh, ya begitu. Waduh gak tahu mas, yang jelas ODOL,” kata Duri, salah satu petugas Dishub Kota Samarinda di lokasi kejadian sembari menggelengkan kepala melihat kondisi truk.
Insiden ini langsung membuat urat nadi lalu lintas di sekitar Jalan Juanda lumpuh total. Demi keselamatan para pengendara dan menghindari risiko jembatan ambruk, petugas kepolisian terpaksa menutup total semua jalur, baik yang menuju ke Jalan Juanda maupun jalur di atas flyover. Kemacetan panjang pun tak terhindarkan di kedua arah.
Unit Lalu Lintas Polresta Samarinda bersama para relawan bergerak cepat di bawah tekanan waktu. Evakuasi harus dilakukan dengan ekstra hati-hati karena posisi truk yang sangat rawan terjatuh dan beban muatan yang terus menekan struktur jembatan.
“Untuk sementara patah as belakang. Kami menunggu crane untuk diratakan dulu posisi truknya, baru setelah itu barangnya diturunkan. Barang yang ada di dalam akan diover (dipindahkan) ke mobil lain,” jelas Iptu Wiwin dari Unit Laka Polresta Samarinda.
Hingga berita ini diturunkan, proses evakuasi muatan kayu dan badan truk masih terus berlangsung dramatis di atas flyover. Sementara itu, sang sopir, Kharisma, kini harus menjalani pemeriksaan intensif oleh pihak kepolisian untuk mempertanggungjawabkan pelanggaran muatan yang nyaris berujung petaka tersebut. Red









