News

Jangan Tunggu Kota Terkepung Air, DPRD Samarinda Minta Infrastruktur Banjir Segera Dibenahi

Bagikan

Samarinda, Solidaritas – Langit Kota Samarinda belakangan ini mulai sering meneteskan sisa tawanya. Meski hujan hanya mengguyur singkat sekitar satu hingga dua jam, riak-riak genangan air sudah mulai tampak mengintip di beberapa sudut jalan.
Walau air dapat surut lebih cepat, kondisi ini seolah menjadi alarm peringatan dini bagi pemerintah kota untuk segera membenahi infrastruktur pengendali banjir sebelum musim penghujan benar-benar tiba.
Menyikapi hal tersebut, DPRD tidak ingin pemerintah kota bertindak layaknya pemadam kebakaran yang baru bergerak saat api sudah membesar. Langkah preventif menjadi harga mati. Pembenahan drainase yang terintegrasi, optimalisasi kolam retensi, hingga perawatan polder harus berjalan beriringan tanpa harus menunggu kota terkepung banjir terlebih dahulu.
Salah satu yang kini menjadi sorotan tajam adalah kondisi Polder Gang Indra. Fasilitas yang sejatinya menjadi benteng penahan luapan air ini sempat memprihatinkan karena permukaannya diselimuti oleh tanaman liar dan gulma. Jika dibiarkan, daya tampung polder dipastikan menyusut drastis.
Bergerak cepat, Ketua Komisi III DPRD Kota Samarinda, Deni Hakim Anwar, langsung berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Samarinda. Hasilnya, pasukan hijau pembersih drainase yang akrab disapa Tim Hantu Banyu langsung diterjunkan ke lokasi untuk menjinakkan tanaman liar tersebut.
“Polder itu kan berfungsi menampung air ketika curah hujan tinggi. Artinya, menjadi salah satu pengendali genangan di lingkungan sekitarnya. Karena itu, kapasitas tampungnya harus dijaga,” ungkap Deni Hakim saat ditemui di Kantor DPRD Samarinda, Jumat (6/11/2026).
Bagi Deni, keberadaan gulma yang menutupi polder bukanlah perkara sepele yang bisa dipandang sebelah mata. Pembersihan tanaman di permukaan hanyalah langkah awal. Tantangan sesungguhnya berada di dasar polder, di mana tumpukan lumpur atau sedimentasi perlahan mulai mendangkalkan waduk buatan tersebut.
“Kemarin kita sudah berkoordinasi dengan tim Hantu Banyu Dinas PUPR. Mereka sedang fokus membersihkan gulma. Setelah itu, kemungkinan juga dilakukan pengerukan sedimentasi yang ada di dalam polder,” jelas Deni.
Sisa-sisa hari di musim kemarau ini dinilai menjadi waktu emas yang tidak boleh disia-siakan. Mengeruk lumpur di saat cuaca kering jauh lebih efektif ketimbang melakukannya saat air sudah meluap tinggi. Deni menegaskan, saat hujan dengan intensitas tinggi datang, seluruh infrastruktur ini harus sudah dalam kondisi “siap tempur”.
“Kita meminta ini dilakukan sekarang karena tidak ingin ketika masuk musim hujan dengan intensitas tinggi, ternyata kapasitas polder tidak mampu menampung air secara maksimal,” cetusnya tegas.
Mata pengawasan legislatif pun dipastikan tidak hanya tertuju pada Polder Gang Indra saja. Deni meminta dinas terkait menyisir seluruh fasilitas pengendali banjir yang tersebar di Kota Tepian, termasuk Polder Air Hitam dan kolam-kolam retensi lainnya. Debit air dan kapasitas tampung wajib dipantau secara berkala agar potensi masalah bisa dideteksi sejak dini.
“Polder-polder yang ada bukan hanya Gang Indra. Ada juga Polder Air Hitam dan tempat lainnya, termasuk kolam retensi. Semuanya harus diawasi dengan ketat,” katanya mengingatkan.
Kini, di bawah terik matahari Samarinda yang tersisa, riak air di polder-polder kota perlahan mulai dibersihkan oleh jemari tangguh Tim Hantu Banyu. Sebuah kerja senyap yang dipacu oleh waktu, demi memastikan warga Samarinda bisa tidur dengan tenang tanpa rasa cemas saat hujan lebat mengguyur malam nanti. Adv

Bagikan

Related Posts