Samarinda, Solidaritas – Di atas aspal jalan raya, sering kali terjadi kesalahpahaman yang fatal. Banyak pengendara merasa telah menjadi pengemudi yang aman hanya karena mereka lihai meliuk di kemacetan, responsif menginjak rem, atau mampu mengendalikan setir dengan stabil dalam kecepatan tinggi.
Padahal, kemahiran teknis itu barulah separuh dari esensi berkendara. Keselamatan di jalan raya bukan hanya memiliki kemampuan untuk mengendalikan setir atau laju kendaraan, namun keselamatan adalah tentang tenggang rasa ruang gerak.
Ketika kita menyalakan mesin dan melaju, jalan yang kita pijak adalah ruang publik yang dinamis, bukan sirkuit pribadi. Di sana ada hak orang lain yang berjalan beriringan dengan ego kita.
Di sinilah pentingnya empati di balik kemudi; sebuah kesadaran untuk tidak hanya melihat ke depan, tetapi juga menakar dampak dari kehadiran kendaraan kita terhadap lingkungan sekitar.
Sebuah insiden kecelakaan lalu lintas yang melibatkan seorang pelajar dan kendaraan besar baru-baru ini merenggut paksa satu nyawa muda. Tragedi memilukan ini seketika menjadi tamparan keras sekaligus pengingat bahwa jalanan di sekitar rumah kita tak lagi sepenuhnya aman.
Jalan umum di lokasi kejadian sebenarnya bukanlah jalur lintas luar kota, melainkan nadi harian bagi warga sekitar. Di sana, ruang aspal yang terbatas harus berbagi pasak. Mulai dari langkah kaki anak-anak sekolah, liukan sepeda motor, mobil pribadi, hingga deru mesin kendaraan berat.
Ketika volume kendaraan terus bertambah namun lebar jalan tak beranjak luas, risiko itu nyata adanya. Dua kendaraan besar yang berpapasan sering kali harus merayap bergantian, menyisakan ruang gerak yang sangat tipis bagi pejalan kaki maupun pengendara roda dua.
Duka ini dirasakan mendalam oleh Anggota DPRD Kota Samarinda, Ronal Stephen Lonteng. Sebagai wakil rakyat dari daerah pemilihan (dapil) tersebut, ia tak mampu menyembunyikan rasa kehilangan yang mendalam atas insiden yang terjadi di lingkungannya.
“Saya menyampaikan duka cita yang mendalam kepada keluarga korban terkait kejadian yang menyebabkan kehilangan nyawa akibat laka lantas beberapa hari lalu,” ungkap Ronal dengan nada berat, Jumat (30/10/2026).
Melihat kondisi di lapangan, Ronal menyoroti betapa timpangnya rasio antara kapasitas jalan dan kepadatan aktivitas penduduk di sana. Kawasan permukiman yang padat menuntut fungsi jalan tidak hanya dilihat sebagai jalur transportasi cepat, melainkan ruang sosial tempat masyarakat beraktivitas sehari-hari.
“Memang itu jalan umum yang di mana dilintasin oleh pengendara kendaraan dan pejalan kaki. Nah, sekarang muncul pertanyaan kok ada laka di sana,” jelasnya .
Politisi partai PDIP itu mengaku keheranannya sekaligus keprihatinan atas masuknya potensi bahaya besar ke ruang hidup warga.
Bagi Ronal, keselamatan di jalan raya tidak bisa lagi dipandang remeh, bukan dilihat dari sekedar bisa mengendaraai kendaraan saja , namun juga dilihat dari kesabaran dan fokus pengendara apalagi jika menlintasi kawasan padat penduduk seperti di jalan Jakarta.
Dari itu keselamatan adalah tentang tenggang rasa ruang ruang gerak—sebuah kesadaran untuk melihat risiko yang mungkin menimpa pengguna jalan lain yang lebih rentan, seperti anak-anak dan pejalan kaki.
Ia memberikan catatan khusus kepada para pengemudi kendaraan besar. Dengan dimensi yang masif dan titik buta (blind spot) yang luas, melintas di tengah permukiman padat menuntut kehati-hatian yang berlipat ganda. Kecepatan harus diredam, dan kewaspadaan harus ditingkatkan.
“Dengan kejadian itu, artinya ada teguran juga di sana untuk kita hari ini dan mungkin yang lainnya ke depannya. Bagaimana caranya menjaga keselamatan untuk diri kita sendiri apalagi kepada orang lain,” tegas Ronal.
Tragedi ini diharapkan tidak berlalu begitu saja sebagai angka dalam catatan statistik kecelakaan. Ronal berharap peristiwa kelam ini memicu evaluasi total, baik bagi masyarakat agar tidak egois mengejar waktu agar cepat sampai tujuan, maupun bagi instansi terkait.
Meski proses hukum dan penanganan teknis sepenuhnya berada di tangan unit kecelakaan lalu lintas kepolisian, ia mendesak adanya langkah preventif yang nyata dari pihak berwenang. Mulai dari pengetatan pengawasan, pemasangan rambu, hingga pembatasan jam melintas bagi kendaraan berat di kawasan permukiman padat.
Jalanan di Sungai Kunjang kini kembali normal, namun menyisakan trauma dan ruang kosong di hati sebuah keluarga.
“Semoga kejadian yang sama-sama tidak kita inginkan kemarin tidak terjadi lagi, kesadaran pengguna jalan sangat diperlukan agar kejadian serupa tidak kembali berulang,” pungkas Ronal penuh harap. Adv









