LIFE
Humaniora

Sertifikasi NAUI untuk Kaltim, Menjamin Keindahan Bahari dengan Standar Keselamatan Kelas Dunia

Bagikan

Samarinda, Solidaritas –  Dari balik jendela ruang kerja di lantai dua kantor Dinas Pariwisata Kalimantan Timur, H.M. Faisal menyambut tamunya dengan senyum penuh kebanggaan. Rombongan FPIK Unmul yang hadir hari itu membawa sebuah misi penting, menyerahkan lisensi selam internasional dari NAUI (National Association of Underwater Instructors).
Dengan standar keselamatan super ketat yang lahir sejak 1960 di Amerika Serikat, lembaga yang melatih astronot NASA dan pasukan elite US Navy SEALs ini kini menjadi saksi bahwa sang kepala dinas telah siap memimpin langsung dari dalam air.
Bagi Faisal, sertifikasi ini adalah bentuk tanggung jawab moral. Sektor pariwisata bahari Kalimantan Timur, mulai dari pesisir eksotis hingga pulau-pulau terluar memiliki risiko tinggi yang berbanding lurus dengan keindahannya. Oleh karena itu, kompetensi bukan lagi pilihan, melainkan kewajiban.
“Saya hari ini memberikan contoh, bahwa saya juga belajar dan mencari kompetensi menyelam,” ujar Faisal dengan nada optimis pada Rabu (2/9/2026).
Faisal menyoroti betapa krusialnya kepemilikan lisensi resmi bagi para pemandu wisata (tour guide) lokal yang menjadi garda terdepan keselamatan wisatawan di perairan Benua Etam. Menurutnya, membawa orang lain menyelami keindahan bawah laut memikul tanggung jawab yang sangat besar.
“Beban mereka jauh lebih berat karena mengajak wisatawan, berbahaya jika tidak memiliki sertifikasi,” tegasnya.
Sadar bahwa biaya pelatihan sering kali menjadi batu sandungan bagi pemandu lokal, Dinas Pariwisata Kaltim tidak tinggal diam. Saat ini, Dispar sedang merancang skema fasilitasi sertifikasi melalui sinergi pendanaan kreatif, termasuk menjajaki peluang pemanfaatan dana Corporate Social Responsibility (CSR) dari perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Kaltim.
“Kami berupaya mencarikan jalan agar kawan-kawan pemandu di objek wisata punya sertifikasi,” imbuh Faisal, menunjukkan komitmennya untuk merangkul pelaku wisata arus bawah.
Keberhasilan Faisal meraih lisensi ini memancing apresiasi dari akademisi. Tim Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Mulawarman (FPIK Unmul) yang menguji dan menyerahkan langsung sertifikat tersebut, mengaku kagum dengan determinasi sang kepala dinas.
Dosen FPIK Unmul, Muchlis Efendi, mengungkapkan bahwa Faisal harus melewati seluruh rangkaian kurikulum tanpa dispensasi, di tengah kepungan agenda dinas yang luar biasa padat.
“Beliau menyelesaikannya di tengah kesibukan dinas yang luar biasa padat jadwalnya. Semua tahapan tuntas dijalani, dari teori daring, praktik kolam, hingga sesi laut,” puji Muchlis.
Untuk mendapatkan sertifikat Open Water (pemula), Anda harus mendaftar di dive center lokal yang berafiliasi resmi dengan NAUI. Proses pelatihannya biasanya memakan waktu 4 hingga 7 hari secara intensif, yang meliputi tiga tahap wajib.
Pemasangan modul transplantasi terumbu karang di kawasan rehabilitasi laut Pulau Miang, Kutai Timur, Minggu (16/8),(Foto: Dispar Kaltim)

Kelas Teori yang dilakukan untuk mempelajari fisika selam, fisiologi tubuh, tabel dekompresi, dan tanda bahaya. Kemudian dilanjutkan dengan latihan kolam seperti mempraktikan cara membersihkan masker yang kemasukan air (mask clearing), melepas-pasang regulator, hingga teknik mengapung (buoyancy control).

Langkah terakhir adalah ujian laut (Open Water Dives) tujuanya adalah untuk mengaplikasikan seluruh keterampilan yang sudah dipelajari langsung di laut lepas sebanyak minimal 4 kali penyelaman.

Instruktur Selam FPIK Unmul, Adnan, yang memegang lisensi internasional dari National Association of Underwater Instructors (NAUI) asal Amerika Serikat dan ADS International asal Jepang, menjelaskan bahwa lisensi yang diraih Faisal memiliki reputasi mentereng. NAUI sendiri dikenal sebagai salah satu agensi selam tertua di dunia yang dipercaya oleh badan antariksa NASA untuk melatih daya apung (buoyancy) para antariksawan.
“Lisensi selam ini berlaku seumur hidup untuk penyelaman rekreasi di seluruh dunia,” terang Adnan.
Meski berlaku seumur hidup, aspek keselamatan tetap menjadi hukum tertinggi. Adnan mengingatkan bahwa sebagai pemegang sertifikat Open Water, Faisal wajib mematuhi batasan teknis yang berlaku global.
“Batas kedalamannya maksimal 18 meter dan penyelaman wajib dilakukan secara berpasangan (buddy system),” urainya.
Bagi pariwisata Kaltim, investasi waktu dan tenaga yang dilakukan Faisal adalah modal berharga. Lisensi Open Water setinggi 18 meter ini sudah lebih dari cukup untuk membawa sang kepala dinas meninjau langsung “harta karun” bawah laut yang tersebar di sekujur provinsi.
Kini, Faisal siap mengawal pengembangan destinasi selam unggulan Kaltim dari dekat. Mulai dari kemegahan bawah laut gugusan Kepulauan Derawan di Berau, eksplorasi 13 titik terumbu karang baru yang eksotis di Muara Badak Kutai Kartanegara, hingga pesisir menawan di Pulau Birah-Birahan dan Teluk Sumbang di Kutai Timur.
Langkah Faisal adalah sebuah pesan kuat, untuk memajukan pariwisata bahari Kaltim, sang pemimpin telah melompat ke dalam air, membuka jalan bagi bangkitnya pariwisata berbasis kompetensi dan keselamatan. Red

Bagikan

Related Posts