Samarinda, Solidaritas – Dunia pendidikan di Kota Samarinda tengah menghadapi tantangan serius yang tersembunyi di balik ruang-ruang kelas. Saat ini, ibu kota Kalimantan Timur tersebut dilaporkan sedang mengalami krisis tenaga pendidik, dengan angka kekurangan mencapai sekitar 500 guru.
Kondisi ini memicu perhatian mendalam dari Anggota Komisi IV DPRD Samarinda, Ismail Latisi. Pada Jumat (21/8/2026), Ismail mengungkapkan bahwa kekosongan bangku pengajar ini terus membengkak setiap tahunnya.
Penyebab utamanya adalah gelombang pensiun massal para guru senior yang tidak sebanding dengan jumlah tenaga pengajar baru yang masuk.
Bagi Ismail, persoalan ini bukan sekadar hitung-hitungan angka di atas kertas, melainkan nasib masa depan generasi muda Samarinda. Jika dibiarkan berlarut-larut, ketimpangan jumlah guru ini dikhawatirkan akan langsung memukul kualitas proses belajar-mengajar di sekolah-sekolah setempat.
“Ini perlu menjadi prioritas dan harus diselesaikan. Pemerintah perlu fokus menyelesaikan kekurangan guru ini,” tegas Ismail dengan nada penuh perhatian.
Menariknya, Ismail tidak hanya mendesak Pemerintah Kota Samarinda untuk segera mengisi kekosongan tersebut lewat rekrutmen biasa. Ia membawa sebuah gagasan yang menyentuh kesejahteraan jangka panjang para pahlawan tanpa tanda jasa ini.
Menurutnya, pemenuhan kuota guru baru sebaiknya diarahkan melalui jalur seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS), bukan sekadar Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).
Ia menilai, status PNS memiliki ikatan moral dan jaminan karier yang jauh lebih kokoh. Ketenangan pikiran atas kesejahteraan dan kepastian masa depan yang didapat dari status PNS diyakini akan linear dengan meningkatnya dedikasi serta kualitas mengajar guru di dalam kelas.
“Guru itu cocoknya bukan PPPK, tetapi PNS agar kesejahteraannya terjamin. Dengan begitu, kualitas dan proses belajar mengajar di kelas semakin baik,” jelasnya secara blak-blakan.
Kini, bola panas ada di tangan pemerintah daerah. Perencanaan kebutuhan guru yang lebih matang dan terukur sangat dinantikan demi memastikan ruang kelas di Kota Tepian tidak lagi kesepian figur seorang guru.Red








