Samarinda, Solidaritas – Rumah sakit seharusnya menjadi tempat paling teduh bagi mereka yang sedang ringkih melawan penyakit. Namun, ruang digital baru-baru ini diguncang oleh sebuah ironi kelam tentang runtuhnya pilar empati dari seorang tenaga kesehatan di Samarinda, Kalimantan Timur.
Seorang dokter perempuan berinisial RM, yang bertugas di RSUD IA Moeis Samarinda, mendadak jadi sorotan publik. Bukan karena prestasi medisnya, melainkan karena sebuah komentar singkat di media sosial yang dinilai sangat tidak pantas: “bacot nie pasien”.
Kalimat ketus itu meluncur di bawah unggahan pilu seorang pasien BPJS. Dalam curhatannya, sang pasien mengeluhkan masa tunggu hingga delapan jam tanpa kepastian mendapat ruang perawatan.
Tanpa menyebut nama rumah sakit, pasien tersebut hanya ingin menumpahkan rasa lelahnya sebagai rakyat kecil yang berharap pada jaminan kesehatan negara. Namun, alih-alih mendapat simpati atau penjelasan edukatif, ia justru mendapat “tamparan” kata-kata dari oknum dokter yang seharusnya merawat.
Unggahan itu pun viral dan memicu gelombang kemarahan warganet. Kolom komentar riuh oleh kecaman. Di tengah kegaduhan itu, sebuah akun yang mengaku sebagai anggota keluarga pasien sempat muncul.
Dengan kerendahan hati yang menyentuh, ia meminta warganet menghentikan ujaran kebencian dan meminta maaf atas kegaduhan yang dibuat oleh unggahan pasien tersebut.
Sayangnya, cerita ini berujung pada duka yang mendalam. Akun lain yang mengaku sebagai sepupu pasien membawa kabar duka, sang pasien kini telah meninggal dunia. Muncul dugaan memilukan bahwa ada keterlambatan penanganan yang fatal di balik hilangnya nyawa tersebut.
Sikap minim empati ini langsung direspons tegas oleh otoritas terkait. Kepala Dinas Kesehatan Kota Samarinda, Ismed Kusasih, mengonfirmasi bahwa dokter RM telah dijatuhi sanksi tegas berupa penonaktifan sementara dari seluruh tugas pelayanan.
“Sembari menjalani proses pemeriksaan internal, dan evaluasi kedisiplinan,” ujar Ismed dalam siaran persnya, Rabu (5/8).
Pihak manajemen rumah sakit bergerak cepat memanggil dokter RM untuk klarifikasi dan pembinaan sesuai aturan kepegawaian. Dokter RM sendiri dilaporkan telah menyampaikan permohonan maaf kepada semua pihak, termasuk kepada rumah sakit tempat pasien tersebut sempat dirawat.
“Kejadian bukan di rumah sakit sini ya. Untuk dokternya kami istirahat dulu lah dua tiga hari. Dan kami juga sudah melaporkan ke Inspektorat Daerah,” tutup Ismed.
Kasus ini menjadi tamparan keras bagi dunia medis. Di era digital, sebuah komentar singkat di media sosial bisa berdampak besar.
Peristiwa ini mengingatkan kembali bahwa bagi seorang dokter, kesembuhan pasien tidak hanya dimulai dari resep obat, tetapi juga dari tutur kata yang menyembuhkan dan empati yang tulus. Red









