Kota Samarinda

Samarinda Siaga Karhutla di Tengah Ancaman El Nino

Bagikan

Samarinda, Solidaritas – Angin sepoi-spoi di pinggiran Kota Samarinda kini membawa kewaspadaan baru. Seiring meningkatnya potensi kemarau akibat fenomena El Nino, ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai membayangi Ibu Kota Kalimantan Timur ini.
Bergerak cepat sebelum api meluas, jajaran Forkopimda langsung merapatkan barisan pada Selasa (4/8), melalui layar Zoom Meeting di Aula Rupatama Lantai II Polresta Samarinda, koordinasi intensif dilakukan bersama Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud, Kapolda Kaltim Irjen Pol Endar Priantoro, dan Kasdam VI/Mulawarman Brigjen TNI Andy Setyawan.
Di tingkat kota, Kapolresta Samarinda Kombes Pol Hendri Umar dan Wakil Wali Kota Samarinda Saefuddin Zuhri turut mematangkan strategi penanggulangan bersama instansi terkait.
Bukan sekadar prediksi, alarm kewaspadaan sebenarnya sudah berbunyi sejak sebulan terakhir. Kombes Pol Hendri Umar membeberkan bahwa sepanjang awal Juli hingga awal Agustus 2026, sudah tercatat sedikitnya 8 kejadian kebakaran lahan di wilayah hukum Polresta Samarinda.
Uniknya, api mayoritas mengintai kawasan pinggiran kota yang masih memiliki banyak lahan kosong. Beberapa titik yang mulai rawan antara lain, Kelurahan Bukuan dan Bantuas yang berada di Kecamatan Palaran kemudian Kelurahan Sidodadi dan Bukit Pinang kecamatan Samarinda Ulu, Kelurahan Mugirejo dan kelurahan Sempaja Utara yang berada di Kecamatan Sungai Pindang dan Kecamatan Samarinda Utara.
Berdasarkan hasil olah tempat kejadian perkara (TKP), mayoritas petaka api ini bukan murni karena faktor alam. Aktivitas sehari-hari seperti pembakaran sampah atau rumput yang ditinggalkan tanpa pengawasan menjadi pemicu utamanya.
“Jadi, penyebab kebakaran adalah pembersihan lahan tanpa pengawasan yang memadai,” ujar Kombes Pol Hendri Umar.
Namun, polisi tidak menutup mata pada kemungkinan lain. Selain faktor kelalaian, ada beberapa titik api misterius yang diduga kuat sengaja disulut oleh oknum tidak bertanggung jawab untuk membuka lahan secara instan.
Menghadapi prediksi cuaca kering yang masih akan berlangsung, Samarinda memilih jalur preventif. Patroli terpadu yang melibatkan TNI, Polri, BPBD, hingga Disdamkarmat akan semakin diintensifkan ke kawasan-kawasan rawan.
Pendekatan humanis juga diutamakan. Sosialisasi masif kini menyasar masyarakat umum hingga kelompok tani agar tidak lagi menggunakan metode bakar untuk membersihkan lahan.
Namun, bagi yang membandel—terutama badan usaha yang sengaja merusak lingkungan demi keuntungan sepihak—hukum dipastikan akan bertindak tegas.
Melalui langkah cepat ini, Samarinda sedang berkejaran dengan waktu, memastikan langitnya tetap biru dan udaranya tetap bersih untuk dihirup esok hari. Red

Bagikan

Related Posts