Olah Raga

Panggung Terakhir Para Legenda dan Kebangkitan Sang Matador di Babak 16 Besar

Bagikan

Solidaritas – Drama, air mata, dan magis sepak bola tersaji penuh dalam lanjutan babak 32 besar Piala Dunia 2026. Dua laga krusial yang berlangsung Jumat (3/7/2026) pagi tadi tidak hanya menjadi panggung pembuktian bagi tim-tim raksasa, tetapi juga menyajikan kisah emosional dari para seniman lapangan hijau yang sedang menantang usia.
Sebelum peluit pertama dibunyikan di Stadion Toronto, Kanada, sebuah pemandangan hangat tersaji di tengah lapangan. Cristiano Ronaldo (41) dan Luka Modrić (40) saling melempar senyum dan berpelukan erat sebelum undian koin dilakukan.
Dua mantan rekan setim di Real Madrid ini datang membawa misi besar yang sama: mengejar trofi Piala Dunia yang mungkin menjadi kesempatan terakhir dalam karier legendaris mereka.
Ketegangan sempat memuncak sepanjang 90 menit laga berjalan. Kroasia lebih dulu menyengat pada menit ke-53 melalui sontekan Ivan Perisic yang memanfaatkan umpan silang akurat Josip Sanisic.
Ronaldo, yang terus mendapat tekanan mental berupa cemoohan keras dari suporter Kroasia setiap kali menyentuh bola, akhirnya memecah kebuntuan Portugal pada menit ke-68.
Melalui eksekusi penalti tenang ke arah tengah gawang, CR7 mencetak gol perdana sepanjang sejarahnya di fase gugur Piala Dunia sebelum ditarik keluar pada menit ke-81.
Saat pertandingan tampak akan berlanjut ke babak tambahan waktu, Goncalo Ramos muncul sebagai pahlawan Seleção das Quinas. Sundulan mematikan Ramos di masa injury time sukses merobek jala Kroasia dan mengubah skor menjadi 2-1.
Laga ini ditutup dengan gelombang protes keras. Di detik-detik akhir sebelum wasit meniup peluit panjang, Mario Pasalic sempat menggetarkan gawang Portugal dan mengira telah menyamakan kedudukan menjadi 2-2.
Namun, intervensi Video Assistant Referee (VAR) menganulir gol tersebut karena posisi offside. Keputusan ini memicu kemarahan pendukung Kroasia yang meluapkan kekecewaan dengan melemparkan botol ke dalam lapangan.
Usai duel yang menguras emosi tersebut, Ronaldo dan Modrić kembali bertemu untuk berbincang kecil.
“Saya bermain bersama Luka selama bertahun-tahun. Usia kami hampir sama. Menurut saya, dia adalah legenda sepak bola. Dia tetaplah seorang legenda sepak bola,” ujar Ronaldo penuh rasa hormat.
Di babak 16 besar nanti, Portugal sudah ditunggu oleh rival abadi mereka, Spanyol.
Sempat tampil kurang memikat meski tak terkalahkan di fase grup, La Furia Roja mengamuk di Stadion SoFi Inglewood, California, Amerika Serikat, pada Jumat dini hari tadi.
Spanyol tampil menggila dengan melumat Austria 3-0 tanpa ampun. Hasil ini menjadi kemenangan pertama mereka di babak gugur Piala Dunia sejak mereka mengangkat trofi juara pada tahun 2010 silam. Mikel Oyarzabal menjadi bintang lapangan dengan torehan dua gol, disusul satu gol tambahan dari Pedro Porro.
“Tim-tim hebat akan tampil maksimal saat dibutuhkan. Kami memainkan pertandingan yang luar biasa. Performa kami mendekati kesempurnaan, namun kami harus terus melakukan perbaikan,” puji pelatih Spanyol, Luis De La Fuente.
Selain kreativitas lini serang yang dimotori Lamine Yamal dan Marc Cucurella, kekuatan utama Spanyol terletak pada tembok pertahanan mereka yang belum kebobolan satu gol pun sepanjang turnamen ini. Austria bahkan dibuat frustrasi tanpa mampu melepaskan satu pun tembakan tepat sasaran (shot on target).
Kiper Spanyol, Unai Simón, mencatatkan clean sheet keempatnya secara beruntun sekaligus memecahkan rekor Piala Dunia dengan total 519 menit tanpa kebobolan secara beruntun sejak turnamen edisi sebelumnya di Qatar.
Meskipun menang besar, Spanyol enggan jemawa jelang laga akbar melawan Portugal pekan depan. “Sekarang saatnya beristirahat dan bersiap untuk pertandingan selanjutnya. Itu adalah pertandingan yang sulit. Kami tahu akan berat menghadapi tim yang mengandalkan permainan fisik, tetapi kami menjalani hari yang sangat baik dan bermain dengan apik,” tutur Oyarzabal pascalaga. Red

Bagikan

Related Posts