Samarinda, Solidaritas – Sore di Teras Samarinda selalu menyuguhkan pemandangan yang memikat. Angin sepoi-sepoi dari Sungai Mahakam berpadu apik dengan tawa warga yang melepas penat.
Tempat ini telah sukses menjadi ikon baru, sebuah magnet yang menarik ribuan pasang mata untuk datang. Namun, di balik pesonanya, tersimpan sebuah tanya besar, setelah dari sini, wisatawan harus melangkah ke mana lagi?
Kekhawatiran inilah yang mengusik pikiran Rusdi Doviyanto. Kepada media pada Jumat (3/7/2026), Anggota DPRD Kota Samarinda ini mengatakan bahwa Samarinda tidak boleh hanya mengandalkan Teras Samarinda. Ada risiko besar jika kota ini hanya bertumpu pada satu titik pesona saja. Ketergantungan pada ikon tunggal lambat laun bisa mendatangkan kejenuhan.
“Jangan sampai orang datang ke Samarinda hanya ke Teras Samarinda, lalu selesai. Kita harus punya lebih banyak pilihan destinasi,” cetus Rusdi, Jumat.
Samarinda memang tidak banyak dianugerahi bentang alam sedahsyat daerah tetangga di Kalimantan Timur. Sadar akan keterbatasan wisata alam tersebut, kreativitas adalah harga mati. Sayangnya, roda inovasi sering kali terganjal oleh realitas klasik, urusan dompet daerah.
Rusdi menyoroti bagaimana minimnya alokasi anggaran pariwisata membuat Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Samarinda seolah kehilangan taji.
Tanpa modal yang kokoh, dinas terkait dinilai terjebak dalam lingkaran program rutin tahunan. Jangankan melahirkan objek wisata baru yang kompetitif atau mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD), sekadar bertahan di tengah persaingan saja sudah menjadi tantangan berat.
Di sisi lain, sektor kuliner yang selama ini menjadi andalan pun pelan-pelan mulai menemui titik jenuh. Samarinda butuh alternatif baru yang mampu menahan wisatawan agar mau tinggal dan menghabiskan waktu lebih lama (length of stay).
Saat kuliner mulai menjenuhkan dan alam memiliki keterbatasan, maka ruh dari pariwisata itu sendiri harus digali kembali, seni, budaya, dan kearifan lokal. Samarinda sebenarnya tidak melulu soal sungai dan mal, kota ini memiliki permata tersembunyi bernama Desa Budaya Pampang.
Berkaca dari suksesnya Yogyakarta dan Bali yang berhasil menyulap tradisi menjadi magnet global, Rusdi yakin Pampang bisa menjadi jawaban atas kejenuhan pariwisata kota.
Namun, menghidupkan Pampang butuh cara baru. Pertunjukan budaya yang selama ini terjadwal kaku disarankan untuk dimodifikasi agar tampil lebih sering. Tujuannya jelas, agar pelancong yang datang di luar hari reguler tidak pulang dengan kekecewaan.
Langkah ini tentu tidak instan. Rusdi mendesak Disporapar untuk segera memperjelas status dan pola pengelolaan Desa Budaya Pampang. Modelnya harus tegas, apakah akan dikelola secara mandiri oleh masyarakat adat, atau mulai membuka gerbang bagi masuknya investor luar?
“Kepastian model pengelolaan ini penting agar pemerintah tahu persis di mana harus menempatkan dukungan,” tegas Rusdi.
Apakah intervensi itu harus berbentuk pembangunan fisik infrastruktur, gencarnya promosi digital, atau sekadar mematangkan kapasitas SDM lokal.
Teras Samarinda sudah membuktikan bahwa kota ini mampu menciptakan ruang publik yang dicintai. Kini, tantangan berikutnya adalah merajut potensi-potensi budaya lokal yang berserakan menjadi sebuah paket perjalanan yang tak terlupakan.
Agar kelak, setiap orang yang berkunjung ke Samarinda tahu bahwa kisah kota ini jauh lebih dalam daripada sekadar senja di tepi Mahakam. Adv









