IKN, Solidaritas – Bayangkan sebuah kawasan yang dulunya bising oleh deru alat berat dan dipenuhi lubang galian tambang yang gersang, kini perlahan berubah menjadi hamparan hijau yang menyejukkan mata. Itulah potret masa depan yang sedang dirajut di kawasan penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN), tepatnya di Bukit Soeharto.
Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) kini tengah fokus mengembalikan mahkota hijau Kalimantan yang sempat hilang. Kepala OIKN, Basuki Hadimuljono, mengungkapkan bahwa memulihkan tutupan hutan di bekas lahan tambang adalah agenda prioritas dalam menata kawasan penyangga ibu kota baru ini.
Lahan-lahan kritis bekas galian komoditas tambang tersebut tidak lagi dibiarkan telantar. Melalui kolaborasi apik antara OIKN, Kementerian Kehutanan, dan sejumlah mitra swasta, aksi penanaman pohon secara masif mulai digulirkan.
Langkah pemulihan ini berjalan beriringan dengan transformasi ekosistem di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP). Di sana, pohon-pohon eukaliptus yang seragam mulai digantikan oleh beragam jenis pohon hutan tropis heterogen. Tujuannya satu: mewujudkan visi besar IKN sebagai kota hutan (forest city).
Menariknya, program penghijauan ini tidak sekadar menjadi proyek seremonial di atas kertas. Basuki Hadimuljono ingin menanamkan nilai-nilai cinta lingkungan ke dalam nadi kehidupan sehari-hari masyarakat IKN. Menanam pohon dan memilah sampah rumah tangga kini didorong untuk menjadi sebuah gaya hidup (lifestyle).
Untuk mewujudkannya, OIKN mengagendakan kegiatan gotong-royong atau korve setiap dua pekan sekali. Dalam kegiatan rutin ini, seluruh lapisan masyarakat dan instansi pemerintahan diajak turun langsung ke lapangan untuk menanam bibit pohon bersama.
“Penanaman pohon di IKN akan menjadi lifestyle. Ya, kami setiap dua minggu sekali dan ini berjalan sejak 2025 melakukannya,” ujar Basuki dalam acara Interaksi virtual dari rangkaian Puncak Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 yang digelar terpusat di Jakarta, Sabtu (6/6).
Hitung-hitungannya sederhana namun berdampak besar. Jika 80 persen penduduk IKN rutin berpartisipasi, akan ada sekitar 800 pohon baru yang tertanam setiap minggunya.
Hingga saat ini, kerja keras tersebut telah membuahkan hasil yang cukup mencengangkan. Lebih dari 19.000 pohon telah tumbuh subur di atas lahan seluas lebih dari 17 hektare di kawasan KIPP.
“Jadi, kami ingin ini sebagai salah satu tiang pembangunan IKN menjadi forest city, bukan deforestasi,” pungkas Basuki.
Lewat langkah-langkah kecil yang konsisten ini, IKN sedang membuktikan bahwa pembangunan modern dan kelestarian alam bisa berjalan beriringan. Harapannya, bumi Kalimantan tidak hanya menjadi pusat pemerintahan yang megah, tetapi juga menjadi rumah yang ramah dan sehat bagi generasi masa depan.
Sentilan Keras
Sementara itu Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH), Jumhur Hidayat, menyentil keras para pelaku industri pertambangan dan pemegang Hak Guna Usaha (HGU) tanaman industri nasional. Sentilan ini dilayangkan karena banyaknya pihak yang kerap mangkir dari kewajiban pemulihan serta reklamasi alam pasca-operasi.
Pernyataan tersebut disampaikan Jumhur merespons pemaparan Kepala Otorita Ibukota Nusantara (OIKN), Basuki Hadimuljono, mengenai program penghutanan kembali bekas lubang tambang di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Bukit Soeharto.
“Banyak sekali kegiatan penambangan tidak dikembalikan, mudah-mudahan inisiatif bapak kepala otorita IKN memulihkan kembali dapat menggelitik mereka-mereka yang mendukung tambang,” kata Jumhur.
Jumhur menegaskan bahwa eksploitasi kekayaan alam secara masif tanpa adanya tanggung jawab restorasi merupakan bentuk pengabaian terhadap hak-hak ekologis masyarakat lingkar tambang. Dampaknya dinilai bisa fatal bagi masa depan bumi.
Oleh karena itu, Kementerian Lingkungan Hidup menuntut komitmen penuh dari seluruh pemegang izin usaha pertambangan (IUP) untuk mengembalikan fungsi bentang alam, kualitas tanah, dan tutupan hutan seperti sedia kala demi mewujudkan keadilan iklim.
“Memang seharusnya ada hak bagi masyarakat lokal, bumi, dan lingkungan yang rusak sebaiknya dikembalikan lagi. Saya kenal bapak (Basuki) adalah seorang pekerja keras,” Pungkas Jumhur. Red









