Samarinda, Solidaritas – Di sebuah sudut kandang di Kelurahan Tanah Merah, Kota Samarinda, seekor sapi berukuran raksasa berdiri gagah. Tubuhnya yang padat, punuknya yang besar, serta sorot matanya yang tenang langsung mencuri perhatian siapa saja yang melintas.
Sapi jenis Brahman Cross berusia enam tahun itu bernama “Bejo”, hewan peliharaan istimewa yang tahun ini mendapat kehormatan besar, terpilih menjadi sapi kurban Bantuan Presiden (Banpres) Republik Indonesia, Prabowo Subianto, untuk Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah.
Bagi sang pemilik, Mujianto, terpilihnya Bejo merupakan buah manis dari kerja keras yang tidak mudah. Merawat sapi hingga mencapai bobot fantastis 1,07 ton membutuhkan dedikasi dan kasih sayang layaknya merawat anak sendiri.
“Alhamdulillah, saya sangat bersyukur dan bangga. Terima kasih kepada Bapak Presiden Prabowo Subianto dan Dinas Peternakan Provinsi Kaltim yang telah memercayai dan memilih sapi terbaik dari kandang kami,” ungkap Mujianto dengan rona bahagia terpancar di wajahnya, Jumat (22/5/2026).
Membesarkan sapi dengan bobot di atas satu ton bukan perkara membalikkan telapak tangan. Mujianto membeberkan bahwa Bejo membutuhkan perhatian yang jauh lebih intensif dibandingkan sapi-sapi biasa.
Setiap hari, kebersihan kandang Bejo harus dipastikan steril dari kotoran untuk menjaga kenyamanannya. Pola makan pun tidak boleh sembarangan. Mujianto menerapkan diet seimbang yang memadukan hijauan berkualitas dengan pakan penguat (konsentrat) bernutrisi tinggi agar perkembangan otot dan daging Bejo bisa tumbuh maksimal tanpa membuat sang sapi stres.
Perjalanan Bejo hingga sampai ke Samarinda pun memiliki ceritanya sendiri. Sapi jumbo ini awalnya didatangkan oleh Mujianto dari Pulau Sulawesi. Ia mengakui, mendatangkan sapi berukuran monster ke Kalimantan Timur saat ini masih memiliki tantangan besar, terutama pembatasan pasokan dari Pulau Jawa.
“Tantangan peternak di Kaltim memang di situ. Kami sebenarnya berharap ke depan akses pasokan sapi-sapi super dari Jawa bisa lebih mudah masuk ke Kalimantan, agar iklim peternakan di daerah kita bisa semakin ramai dan maju,” tuturnya.
Menjadi pilihan orang nomor satu di Indonesia tentu harus melalui seleksi yang super ketat. Bukan hanya soal penampilan fisik yang gagah dan gemuk, faktor kesehatan menjadi syarat mutlak yang tidak bisa ditawar.
Tim dokter hewan dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur telah turun langsung ke kandang Mujianto untuk melakukan medical check-up menyeluruh terhadap Bejo.
Sampel darahnya diambil, nafsu makannya dipantau, hingga akhirnya diterbitkan Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH) yang menyatakan Bejo bebas dari segala penyakit menular.
“Untuk urusan kesehatan, alhamdulillah Bejo sudah aman total. Semua tes sudah dilewati dengan baik,” kata Mujianto menjamin kualitas sapi kesayangannya tersebut.
Kualitas premium dan perawatan ekstra ini sebanding dengan nilai ekonomisnya. Sapi Bejo ditebus oleh tim kepresidenan dengan harga mencapai kisaran Rp120 juta.
Kini, sembari menunggu hari H Iduladha, Mujianto terus memanjakan Bejo di kandangnya sebelum dilepas secara resmi untuk melaksanakan tugas sucinya sebagai hewan kurban kepresidenan bagi masyarakat Kalimantan Timur. Red









