Samarinda, Solidaritas – Upaya memberantas peredaran gelap narkotika di bumi Kalimantan Timur kian gencar dilakukan. Setelah sukses menggagalkan penyelundupan 11 kilogram sabu di Sangatta, Kutai Timur, dan membongkar pabrik narkoba rumahan (home industry) di Balikpapan, kini radar Direktorat Reserse Narkoba Polda Kaltim beralih membidik kawasan pemukiman yang disinyalir menjadi sarang transaksi barang haram tersebut.
Komitmen tanpa kompromi ini ditegaskan langsung oleh Direktur Reserse Narkoba Polda Kaltim, Romylus Tamtelahitu. Di bawah komandonya, korps baju cokelat ini bertekad menutup rapat-rapat ruang gerak para bandar dan pengedar di Benua Etam.
“Sebagai tim pemberantasan narkoba, kami menjalankan perintah pimpinan untuk serius menekan peredaran narkotika di Kaltim. Tidak boleh ada ruang bagi jaringan narkoba berkembang di daerah ini,” ujar Romylus pada Senin (18/5/2026).
Langkah agresif kepolisian dalam membongkar wilayah yang kerap dijuluki “kampung narkoba” salah satunya di kawasan Gang Kedondong, Samarinda bukan tanpa alasan. Romylus mengungkapkan, keberhasilan mendeteksi titik-titik rawan ini bermula dari keberanian warga sekitar yang mulai gerah dan melaporkan aktivitas mencurigakan di lingkungan mereka.
Laporan dari masyarakat tersebut kemudian digodok matang lewat penyelidikan mendalam bersama Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri hingga berujung pada tindakan penyergapan.
“Beberapa bulan terakhir banyak masyarakat yang langsung menyampaikan laporan kepada kami. Informasi itu sangat membantu dalam pengungkapan kasus,” jelasnya.
Berangkat dari kesuksesan tersebut, perwira melati tiga ini mengetuk hati masyarakat di seluruh penjuru kabupaten dan kota di Kaltim untuk tidak takut menjadi mata dan telinga bagi kepolisian.
“Kami berharap masyarakat tidak ragu memberikan informasi. Baik di Samarinda, Balikpapan, Kukar, Kubar maupun Berau, setiap laporan akan kami respon cepat,” kata Romy meyakinkan masyarakat.
Kewaspadaan aparat kini juga berlipat ganda. Berkaca dari kasus pabrik sabu rumahan yang terungkap di Balikpapan, polisi mencium adanya potensi pola serupa yang diterapkan para pelaku di dalam pemukiman padat atau kampung narkoba lainnya.
“Tidak menutup kemungkinan praktik serupa (home industry) ada di lokasi lain. Karena itu kami terus melakukan pendalaman,” tambahnya.
Meski begitu, Romy sadar betul bahwa senjata api dan jeruji besi tidak akan cukup untuk mencabut akar narkoba hingga tuntas. Menoleh ke belakang saat dirinya melakukan penelitian mendalam di Kampung Ambon, Jakarta salah satu episentrum peredaran narkoba terbesar di Indonesia, Romy menegaskan bahwa perang melawan narkoba membutuhkan kerja keroyokan.
“Masalah kampung narkoba harus diselesaikan bersama. Pemerintah daerah, tokoh masyarakat, dan seluruh stakeholder harus ikut terlibat agar penanganannya maksimal,” pungkasnya menutup perbincangan. Red









