Samarinda, Solidaritas – Publik Kota Samarinda tentu masih ingat dengan insiden ketegangan yang sempat viral beberapa waktu lalu, saat petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) terlibat adu mulut dengan Oknum Anggota Bintara Pembina Desa (Babinsa) TNI.
Kala itu, kedua belah pihak bersitegang di lapangan terkait perbedaan pandangan aturan saat penegakan Peraturan Daerah (Perda) terhadap warung remang-remang.
Namun, pemandangan kontras dan menyejukkan hati tersaji pada Selasa (29/9/2026) siang di kawasan Rawa Makmur, Kecamatan Palaran, Kota Samarinda.
Tidak ada lagi perdebatan sengit tentang aturan. Tidak ada lagi ketegangan urat leher. Di bawah terik matahari yang menyengat, seragam cokelat penegak perda, seragam loreng hijau TNI, serta seragam cokelat Polri justru melebur menjadi satu kekuatan demi menyelamatkan lingkungan dari amukan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Tanpa memedulikan friksi masa lalu, petugas Satpol PP, Babinsa, dan Bhabinkamtibmas langsung merangsek bersama ke titik api yang melahap areal seluas kurang lebih 2,5 hektare tersebut. Dengan memegang dan menarik selang air yang sama, mereka saling bahu-membahu mengarahkan pancaran air ke vegetasi kering yang membara.
Sinergi instan ini dipicu oleh kondisi darurat yang terjadi di lapangan. Kebakaran lahan di kawasan Simpang Pasir tercatat sudah meluas selama tiga hari terakhir. Embusan angin kencang membuat api bergerak liar hingga posisinya kian mendekat dan mengancam area pemukiman warga setempat, memicu kepanikan massal.
Kehadiran para aparat karib ini dikonfirmasi langsung oleh Aiptu Firman selaku Bhabinkamtibmas, serta Serka Pitoyo selaku Babinsa Kelurahan Rawa Makmur. Keduanya menegaskan bahwa keberadaan mereka di Simpang Pasir adalah untuk memastikan titik-titik api tersembunyi benar-benar telah padam total demi meredam kekhawatiran warga.
“Kami sudah tiga hari berturut-turut melakukan pemadaman di kawasan ini, dan setiap hari harus dilakukan pemantauan berkala. Lokasi yang telah berhasil dipadamkan ternyata masih bisa terbakar kembali karena faktor kedalaman tanah gambut,” ujar Aiptu Firman saat ditemui di lapangan.
Senada dengan rekannya, Serka Pitoyo menekankan bahwa urusan penanggulangan karhutla bukan melulu menjadi beban di pundak petugas pemadam kebakaran ataupun BPBD semata. Partisipasi aktif dari warga sekitar sangatlah krusial agar ancaman kebakaran lahan bisa segera teratasi.
“Beruntung ada rekan-rekan relawan, BPBD, damkar, dan Satpol PP yang juga ikut turun langsung memadamkan api. Berkat sinergi ini, akhirnya bencana kebakaran ini bisa kita atasi bersama-sama,” ungkap Serka Pitoyo penuh syukur.
Sementara itu, personel Satpol PP Kota Samarinda, Taufik, menegaskan bahwa kehadiran mereka di tengah kepulan asap ini merupakan instruksi langsung dari pimpinan. Fokus utamanya adalah memberikan bantuan nyata kepada masyarakat agar dampak kabut asap tidak semakin meluas.
“Tugas penanganan awal tentunya berada di ranah BPBD, Relawan, TNI, Polri serta Damkarmat. Kami di sini hadir untuk memastikan agar lokasi yang telah berhasil dipadamkan tidak kembali menyala,” tegas Taufik.
Taufik menambahkan, personel Satpol PP disebar untuk melakukan penyisiran ke area-area yang masih memuntahkan asap. “Makanya kami datangi lokasi-lokasi yang masih berasap itu, lalu kami lakukan penyemprotan dan padamkan sampai tuntas,” pungkasnya.
Hingga Selasa sore, kolaborasi epik antarlini ini sukses menjinakkan amukan api di Simpang Pasir. Peristiwa di Palaran ini seolah mengirimkan pesan sejuk bagi warga Samarinda: saat situasi memanggil untuk misi kemanusiaan, garis pembatas birokrasi runtuh, digantikan oleh jabat tangan erat dan peluh yang mengalir bersama di garis depan pemadaman. Red









